Ahok: Bagi Kami Sosok Gus Dur Seperti Dewa

  • Bagikan

JAKARTA, SiaranIndonesia.com – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama atau biasa disapa Ahok mengatakan, bagi warga keturunan Tionghoa, sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sudah seperti dewa.

“Saya rasa kalau orang Tionghoa menganggap Gus Dur itu seperti Ceng Ho, kayak dewa,” kata Ahok, pada peresmian patung Gus Dur masa kecil, di Taman Amir Hamzah di Pegangsaan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4).

Dalam pandangan Ahok, sosok Gus Dur sangat menginspirasi, terutama pada sekitar awal 2000, saat dimana muncul ketidaksukaan terhadap etnis Tionghoa. Pada akhir Orde Lama menyusul Orde Baru berkuasa, ada “kebiasaan” memakai “nama Indonesia” bagi warga keturunan Tionghoa Indonesia.

Pada masa pemerintahan kolonialis, etnis Tionghoa di Indonesia dimukimkan dalam pemukiman tersendiri dan Belanda mengangkat seorang kapiten China sebagai kepanjangan tangannya.

“Cuma dia presiden yang ngaku kalau dia keturunan Tionghoa. Waktu dulu saya mau jadi gubernur saudara saya bilang tidak tahu malu, sepupu saya saja bilang begitu itu si ‘koko’ Ahok tidak tahu diri. Tapi dia tidak tahu Gus Dur sudah bisik-bisik sama saya, kamu bisa jadi gubernur,” kenang Ahok.

Ahok adalah gubernur pertama di Jakarta yang berlatar keturunan Tionghoa dan bukan pemeluk agama mayoritas Indonesia, Islam. Dia semula wakil gubernur dan kemudian naik ke posisi gubernur sejalan keterpilihan Joko Widodo (gubernur DKI saat itu) ke kursi kepresidenan.

Gus Dur juga yang memberi semangat luar biasa dan membuat dirinya berani. “Kita terima kasih kepada Yayasan Komodo Dragon yang membuat patung Gus Dur Ini karena ini menginsiprasi. Bahwa di republik ini dengan berdasarkan konstitusi kita siapa pun bisa jadi presiden dan gubernur, bupati walikota dan UU kita itu menjamin,” katanya.

Ahok juga mengaku dia bisa menjadi sosok seperti sekarang ini karena ketularan Gus Dur. “Jadi kadang-kadang kalau kita ikut jejak Gus Dur ngomong apa-adanya, maka pasti ada resiko dimakzulkan, jadi saya ikut Gus Dur saja,” tambah Ahok.

Dia berharap di Indonesia bisa lahir tokoh-tokoh lainnya seperti Gus Dur lagi, baik yang dari muslim maupun agama lain. Pada 2000, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14/1967 yang dikeluarkan oleh rezim Orde Baru. Pencabutan Inpres itu membawa angin segar bagi masyarakat Tionghoa.

Berlanjut pada 2001, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001, Gus Dur meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif, yang boleh dirayakan bagi pemeluknya saja. [ANT/AS]
  • Bagikan

Comment