oleh

Awan Cumulonimbus, Momok Bagi Pilot Seluruh Dunia

Awan cumulonimbus atau dikenal dengan code Cb merupakan awan hujan atau awan badai yang sangat dihindari di dalam dunia penerbangan. Sebagai faktor alam yang tidak dapat dikontrol kemunculannya, keberadaan awan cumulonimbus pada rute suatu penerbangan dapat menimbulkan berbagai kondisi yang membahayakan penerbangan. Badan otoritas penerbangan Amerika Serikat merekomendasikan pesawat setidaknya harus berada pada jarak 20 mil laut dari awan cumulonimbus. Sebenarnya apa sih awan cumulonimbus itu? Dan mengapa pesawat terbang menghindari awan cumulonimbus?

Apa itu awan cumulonimbus?

Menurut World Meteorological Organization awan cumulonimbus digolongkan sebagai awan rendah dengan karakter berat dan tebal yang tumbuh secara vertikal yang terlihat seperti gunung atau menara. Bagian paling atas awan kumulonimbus biasanya terlihat halus seperti kapas dan hampir menyerupai dataran yang menyerupai landasan atau hamparan bulu-bulu halus. Sedangkan bagian bawah awan cumulonimbus berwarna jauh lebih gelap, menggumpal dan rapat. Di Beberapa tempat dapat terlihat hujan turun dari awan cumulonimbus ini. Awan cumulonimbus memiliki dua spesies yakni Cumulonimbus calvus (Cb cal) dan Cumulonimbus capillatus (Cb cap). Awan cumulonimbus dapat terbentuk dari awan rendah Cumulonimbus congestus dan Stratocumulus, bahkan awan sedang seperti Altocumulus, Altostratus atau Nimbostratus. Proses konveksi terbentuknya awan ini ketika udara hangat naik membentuk awan kecil kemudian tumbuh semakin tinggi membentuk awan cumulonimbus. Namun ada juga awan cumulonimbus yang terbentuk secara orografis dimana massa udara hangat naik yang disebabkan adanya perubahan ketinggian muka bumi seperti di lereng gunung.

Bagaimana cara membedakan awan kumulonimbus dan awan-awan lain yang bentuknya mungkin hampir mirip seperti Nimbostratus atau Cumulus congestus? Jawabannya adalah terbentuknya awan cumulonimbus akan disertai dengan hujan yang deras dan merata seperti guyuran hujan yang disertai oleh petir, guntur atau hujan es.

Turbulensi

Di dalam awan cumulonimbus yang padat dan tumbuh tinggi secara vertikal terdapat gaya tarikan ke atas dan kebawah yang membentuk wind shear atau angin dengan berbagai kecepatan dan arah yang dapat menyebabkan turbulensi. Adanya angin yang tidak beraturan serta turbulensi yang kuat akan berbahaya bagi pesawat yang terbang di dalam atau bahkan hanya mendekati awan cumulonimbus ini.

Terbentuknya lapisan es pada permukaan pesawat

Adanya massa air dingin jauh dibawah titik beku yang rapat pada awan-awan cumulonimbus, terutama pada bagian awan yang cukup tinggi dapat menyebabkan terbentuknya lapisan es pada permukaan pesawat. Lapisan es terutama pada sayap dapat mempengaruhi kerja pesawat terutama kemampuan angkat pesawat. Beragam gagal fungsi pesawat dapat terjadi seperti pesawat yang kehilangan kontrol, kerusakan radio, ketidakstabilan pada badan pesawat, ketidakakuratan sensor ketinggian dan kecepatan serta terjadinya stall.

Gangguan listrik dan sambaran petir

Pesawat yang terbang di dalam atau di dekat awan cumulonimbus dapat mengalami gangguan listrik yang dapat mempengaruhi sistem komunikasi dan navigasi pesawat. Kedua sistem ini sangat krusial bagi keselamatan penerbangan. Selain itu terbang di dekat awan cumulonimbus dapat meningkatkan resiko pesawat tersambar petir.

Hujan es dan tornado

Pada awan cumulonimbus dengan banyak massa air sangat dingin, hujan es dapat terjadi selain guyuran hujan deras. Hujan es dapat merusak badan pesawat sehingga memicu misalnya kegagalan sistem navigasi dan sensor pesawat serta perubahan tekanan udara yang mendadak. Apabila hujan es ini jatuh di sekitar bandara akan membuat landasan pacu menjadi lebih licin. Selain itu awan cumulonimbus juga dapat memicu terjadinya badai, tornado atau angin puting beliung. Dimana kondisi ekstrim ini akan menjadi salah satu pertimbangan apakah suatu penerbangan akan ditunda atau dibatalkan.  (Lampu Edison/Kumparan)

News Feed