Lakpesdam PCNU Kebumen: Revolusi Akhlak Ala NU dengan Menghadirkan Puluhan Ribu Pesantren dan Pendidikan Formal

  • Bagikan

Revolusi akhlak, dikatakan oleh Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kebumen Kiai Abdul Kharis, sejak lama hingga saat ini dijalankan Nahdlatul Ulama (NU) lewat pesantren-pesantren. Ia berharap, revolusi akhlak ala NU ini jangan dirusak dan jangan pula dihina.

Lebih lanjut dipaparkan oleh alumnus Pesantren di Tegalrejo, Magelang ini, bahwa di Indonesia saat ini ada puluhan ribu pesantren NU. Ada ratusan ribu ulama NU. Tiap tahun melahirkan ratusan ribu santri dan ribuan penghafal Alquran. Ia pun mempertanyakan, bagi kalangan yang belum mengenal NU, sebelum melontarkan gagasan revolusi akhlak, setidaknya agar belajar di NU terlebih dahulu sebagai bahan reverensi. Harapnya, agar gagasan dan konsep nantinya benar-benar pembaruan, bukan gagasan yang kerdil yang kering atau bahkan sebaliknya yang justru merusak akhlak.

“Namanya bagus, revolusi akhlak. Tapi gagasan dan konsepnya juga mustinya jangan kerdil dan kering, apalagi justru jauh dari akhlak Islam,” tegas sekretaris Lakpesdam PCNU Kebumen ini.

Lanjutnya dikatakan, cukup miris, namanya revolusi akhlak tapi justru menghina NU. Padahal, di NU ada ratusan ribu lembaga pendidikan, baik formal dan pesantren. Di NU juga ada puluhan ribu ulama. Miris jika katanya revolusi akhlak, tapi hanya teriak-teriak di lapangan dengan menghina sana-sini.

Pun di NU tidak ada ulama yang teriak-teriak, tak ada ulama NU yang setiap mengajinya isinya menghasut kekerasan, tapi bukan berarti ulama-ulama NU itu bodoh-bodoh. Adapun di NU jika ada ulama, ada pengasuh pesantren, yang sambil bisnis atau ada ulama yang sambil berpolitik, itu bukan soal ambisi, tapi sebagai ikhtiar dari fastabiqul khairot. Jika orang tak baik pun berpolitik, kenapa ulama berpolitik di salahkan. Bukankah akan lebih baik jika politisi di Indonesia dari kalangan ulama atau orang-orang baik.

Apalagi, lanjutnya, di NU banyak pesantren-pesantren yang gratis. Ada ribuan pesantren yang biayanya hanya sekedar iuran listrik. Jika pengasuh pesantren tak bisnis, bagaimana jika ada perbaikan gedung pesantren, dan seterusnya.

“Di Indonesia itu mayoritas Islam. Ada puluhan ribu ulama di NU. Ada puluhan ribu pesantren. Tiap tahun NU melahirkan ratusan ribu santri. Belum lagi majlis-majlisnya. Apakah karena ini, NU dianggap kurang berakhlak, dianggap NU tidak lebih baik dari ormas yang tak memiliki lembaga pendidikan, tak lebih baik dari ormas atau tokoh agama yang mengajinya isinya menghasut?” tanyanya.

Ia pun berharap, para tokoh agama dan ormas manapun agar memiliki pikiran yang sehat. Karena jiwa yang sehat itu lahir dari pikiran yang sehat.

“Tingkat kepedulian terhadap umat sudah sampai mana sih, sehingga seakan merasa dirinya paling alim, paling soleh, paling Islam,” pungkasnya.

  • Bagikan