oleh

Optimalisasi Perpusdes Untuk Meningkatkan SDM Desa

SiaranIndonesia.com-Pada bulan Maret 2017, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Muhammad Syarif Bando mengeluarkan SK peraturan perpustakaan nasional nomor 6 tahun 2017 tentang standart nasional perpustakaan desa atau kelurahan yang bisa dijadikan pedoman oleh setiap kelapa desa yang ingin membentuk perpustakaan desa (Perpusdes), secara mandiri di dearahnya masing-masing. Dalam peraturan tersebut mengatur mekanisme operasional perpustakaan desa yang tujuanya adalah untuk mewujudkan minat literasi membaca dan menulis masyarakat di wilayah pedesaan.

Disadari atau tidak keberadaan perpusatakaan desa sangat penting bagi masyarakat. Perpustakaan merupakan sarana penunjang pendidikan bagi setiap warga negara tak terkecuali mereka yang terlahir dari desa. Keberlangsungan proses pendidikan akan semakin baik bilamana ditunjang dengan kelengkapan Informasi yang salah satunya adalah kehadiran Perpustakaan.

Seperti kita ketehui bersama bahwa memang pada dasarnya pilar pendidikan adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Tapi seharusnya akses Informasi berupa bahan pustaka itu tersedia baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat. Faktanya saat ini belum semua keluarga memiliki perpustakaan pribadi, belum semua sekolah dilengkapi dengan Perpustakaan yang memadai dan belum semua masyarakat mudah mengakses Perpustakaan baik Perpustakaan umum, komunitas serta Perpustakaan desa.

Padahal pemerintah sudah mengetahui bahwa masyarakat desa juga menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang wajib dilindungi hak-hak intelektualnya termasuk di bidang informasi, mereka adalah sumber Daya manusia (SDM) dan bagian dari harta kekayaan negara. Oleh karena itu, optimalisasi keberadaan perpustakaan di desa merupakan jalan terbaik untuk melindungi SDM desa, tidak cukup jika keberadaan perpustakaan desa hanya dijadikan pemanis iklan para calon pemimpin daerah maupun nasional di setiap penyelengaraan demokrasi Indonesia.

Sementara perkembangan zaman tidak dapat dihindari, peran orang tua, sekolah dan masyarakat sebagai pilar pendidikan anak-anak sudah mulai diuji. Masuknya teknologi dan ilmu pengetahuan yang serba digital serta smartphone yang terus menyediakan fitur pendidikan digital yang sulit dikotrol dengan baik, menjadi kecemasan yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat desa.

Kecemasan yang dimaksud bukan berarti masyarakat takut menghadapi kemajuan zaman dengan hadirnya digitalisasi. Namun mereka khawatir bagaimana generasi muda desa menyikapi itu semua dengan minimnya ilmu pengetahuan dan edukasi literatur masyarakat desa yang sangat rendah. Sementara generasi muda penerus desa terus dibanjiri informasi dari luar yang mereka sendiri tidak sanggup menerima infomasi tersebut, terutama gaya hidup barat yang serba glamor dan informasi hoax yang semakin hari kian sporadis dengan buzzernya.

Mengapa harus ada kata istilah optimalisasi keberadaan perpustakaan desa, sebab selama ini pemerintah selalu membangga-banggakan namanya (perpusdes). Namun pada hakikatnya masyarakat masih banyak yang belum menikmati dari perpustakaan tersebut. Tidak ada kontrol yang jelas bagi kinerja kepala desa di seluruh Indonesia terkait penyelengaraan perpustakaan desa dan minimnya pengawasan ini menjadi alasan kenapa perpusdes tersebut masih banyak yang belum terbentuk secara optimal desa.

Keberadaan perpusdes ini setidaknya sudah menjadi pertimbangan khusus bagi setiap kepala desa di Indonesia. Jika pertimbangannya adalah factor biaya yang menjadi beban, bukankah sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah desa untuk mencari jalan keluar agar desanya lebih maju dan sadar literasi yang kelak output nya akan kembali ke desa sendiri.

Salah satunya cara yang bisa diambil dari APBDes, rencana bantuan dana ke desa berdasarkan UU Desa yang diwacanakan Rp 1 milyar/tahun seandainya 5% saja dari dana tersebut untuk operasional Perpustakaan desa barangkali sudah cukup untuk operasional, perlu juga dijajagi orang-orang sukses dari desa tersebut untuk peduli terhadap pengembangan Perpustakaan di desa sendiri.

Dalam hal ini, cukup banyak orang-orang desa yang sudah sukses baik yang masih tinggal di desa maupun yang sudah merantau, sumbangan berupa financial maupun koleksi bahan pustaka perlu sebagai langkah optimalisasi Perpustakaan desa, disamping itu perlu juga diupayakan bantuan buku khusus dari perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap pendidikan.sehingga dengan adanya upaya sadar literasi desa tersebut dapat membantu peran orang tua, sekolah dan masyarakat dalam mendidik anak-anak mereka di desa sesuai perkembangan zaman.

Terkait pendanaan ini, sebetulnya banyak cara yang bisa dilakukan oleh pemrintah desa. Salah satunya adalah menyisakan beberapa anggaran di daerah dan terus melakukan kordinasi secara terus menerus dengan pihak perpusdes agar pengadaan buku di desa ditingkatkan. Bahkah jika perlu berkordinasi langsung dengan perpustakaan nasional dengan mengajukan permohonan pengadaan buku di perpustakaan desa. Tidak ada yang mustahil kecuali pemerintah desa benar-benar ingin membangun perpustakaan desa secara optimal.

Mengapa sadar lirerasi desa ini perlu ditingkatkan melalui optimalisasi perpusdes. Salah satunya adalah menghadairkan budaya literasi yang sangat membantu perkembangan ilmu pegetahuan masyarakat di berbagai sector yang tentunya dengan akses informasi yang cukup memadai. Elizabeth Sulzby mendifinisikan literasi sebagai wujud kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi salah satunya adalah dengan kemampuan membaca, berbicara, menyimak dan menulis.

Sementara manfaat lietrasi bagi anak desa salah satunya adalah, kemampuan literasi dapat membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat. Kemampuan literasi dapat membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca.

Kemampuan literasi bisa Meningkatkan kemampuan seseorang dalam memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis. Kemampuan literasi Membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik di dalam diri seseorang. Kemampuan literasi dapat meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan membaca dan menulis. Kemampuan literasi bisa menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas dan bisa membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat.

Seharusnya SK perpudes tadi benar-benar diwujudkan oleh setiap kepala desa di Indonesia. Sadar literasi di pedesaan sudah sepantasnya diterapkan mengingat banyak anak-anak di desa yang memerlukan bahan bacaan dan informasi yang berkualitas layaknya anak-anak di perkotaan yang sejak lahir mereka sudah dihadapkan dengan segala fasilitas pendidikan yang cukup lengkap termasuk perpustakaan yang biasa kita kenal dengan Perpusnas dan Perpusda.

***

*)Penulis:Edi Junaidi Ds (Jurnalis TIMES Indonesia)

News Feed