Saintik UNIMUDA Ikuti Kemah Budaya Kaum Muda Tingkat Nasional 2020

  • Bagikan

Kemah Budaya Kaum Muda (selanjutnya disingkat KBKM) 2020 merupakan platform kerja budaya yang menghimpun kaum muda yang berusia antara 18 sampai dengan 25 tahun. Dengan tujuan untuk menjawab berbagai tantangan pemajuan kebudayaan dengan memanfaatkan kekayaan wawasan di bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts dan Mathematics).

Pada kesempatan ini tim Santik yang beranggotakan Syaiku Malik, Lydia Putri Prasetyaningtyas, dan Yeremias Oratmangun. Tim ini merupakan perwakilan region Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua adalah utusan dari program studi Teknik Kimia Univeristas Pendidikan Muhammadiyah Sorong dengan prakarya Sabun Antiseptik Dari Ekstrak Daun Matoa dengan nama produk PapLe (Papua Leaf).

“Daun Matoa ini punya senyawa antibakteri seperti Tanin, Saponin, dan Flavonoid, untuk itu kami ekstrak dan kami buat menjadi sabun antiseptik karena sesuai dengan kondisi sekarang yang sedang pandemi, jadi kami membuat inovasi baru sekaligus mengangkat tanaman endemik Papua, yaitu Pohon Matoa karena yang selama ini digunakan hanya buah dan batangnya saja, untuk daunnya sendiri masih kurang pemanfaatannya. Jadi kami ini yang pertama kali membuat inovasi ini dan sesuai dengan permasalahan kemajuan kebudyaan berdasarkan DPU PPKD poin ketiga yaitu Kurangnya Pengelolaan Kekayaan Wawasan Budaya Tradisional Untuk Menjawab Permasalahan Lingkungan Hidup, nah dari situlah kami mengikuti kegiatan KBKM ini,” ujar Lydia.

Diketahui untuk memperoleh ekstrak daun matoa ini mereka perlu melakukan beberapa treatment. Diawali dengan pemilihan daun, pembersihan, pengeringan guna mengurangi kadar air pada daun, lalu menggunakan Ultrasonik yang berbantu gelombang untuk mendapat ekstrak daun matoa, hingga teknik pemisahan (destilasi) untuk memperoleh ekstrak murni daun matoa yang sudah tidak bercampur lagi dengan pelarutnya.

Awal mula tim Santik dapat mengikuti kegiatan Kemah Budaya Kaum Muda ini adalah karena melihat informasi pada beranda salah satu media sosial Kemendikbud. Lalu Syaiku selaku ketua tim mendaftarkan ide ini lalu mengikuti serangkaian pelatihan pada tahap regional secara daring via Zoom dan WhatsApp grup hingga akhirnya mendapat Juara 2 tingkat regional dan dapat lanjut sampai pada tingkat Nasional yang dilaksanakan secara luring di Jakarta pada 9-15 November 2020 lalu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ada 22 kelompok yang lolos pada tingkat Nasional. Kelompok ini terbagi menjadi 11 kelompok Aplikasi dan 11 kelompok Prakarya yang berasal dari berbagai daerah dari Sumatera sampai Papua dengan berbagai ide dan kreatifitas guna mengembangkan keragaman budaya Indonesia.

“Teman-teman disini kebanyakan sudah pada semester atas, udah semester 7 bahkan ada yang sudah selesai kuliah, jadi kami merasa yang paling kecil sih karena baru semester 3 bahkan kami angkatan pertama dari prodi Teknik Kimia di UNIMUDA Sorong. Tapi senang juga jadi bisa banyak sharing sama teman-teman dari daerah lain,” kata Syaiku.

Banyak sekali kegiatan dan pengalaman yang di dapat pada saat mengikuti kegiatan di Jakarta. Seperti megikuti workshop inspiratif dari Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, founder Erudio Indonesia dan founder Modal Rakyat, belajar Design Thinking dari para fasilitator dan mempresentasikannya bersama teman-teman dari daerah lain, pelatihan cara presentasi yang baik, sampai pada display pameran dan diakhiri dengan penjurian oleh para investor.

“Banyak dapat teman baru, pengalaman baru, dan pastinya banyak belajar public speaking karena disana hampir setiap hari memperkenalkan prakarya dan keunikan daerah kami di depan pemateri, fasilitator, maupun di depan teman-teman lain,” ujar Yeri ketika diwawancarai. [] Liputan: Lydia Putri Prasetyaningtyas (Mahasiswi 2019, Teknik Kimia UNIMUDA Sorong)

 

  • Bagikan