Coronavirus: Menambah Istilah Populer dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

  • Bagikan

Oleh: Julieta Evelin Shouka

Coronavirus tidak hanya menjadi masalah global yang mendunia.Tapi rupanya Coronavirus mampu menjadi sebuah keberkahan tersendiri. Hal ini tentunya berlaku atau hanya bisa dimaknai dan dirasakan bagi orang-orang yang tergolong dalam tingkatan ulul albab atau orang-orang yang mentafakuri segala sesuatu yang dianugrahi Allah. Soal apakah Coronavirus dipancing, dirangsang, dan direkayasa oleh budaya manusia, oleh ilmunya yang angkuh, oleh pengetahuan manusia yang congkak, dan oleh peradaban manusia yang penuh kibriya’ seperti kata Emha dalam bukunya Lockdown 309 Tahun, adalah berpulang pada pribadi masing-masing manusianya. Meski seolah sedang memakan buah simalaka atau seperti lagu madu di tangan kiriku dan racun di tangan kananku, masa pandemi yang tak kunjung perfi ini seolah bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Coronavirus memang membawa sisi menyedihkan. Banyak orang meninggal, sekolah tutup, pengangguran, perusahaan banyak yang bangkrut, saham turun, belum lagi dana miliaran yang dikeluarkan pemerintah yang dialihkan untuk meringankan penderitaan rakyatnya. Namun, sisi lainnya adalah kita jadi memiliki banyak waktu luang yang bisa dihabiskan bersama keluarga karena keharusan bekerja di rumah, sekolah online, dan belanja online. Secara tidak langsung kita juga memperbaiki gaya hidup menjadi lebih sehat dan mengubah kebiasaan, serta lebih kreatif dengan budidaya tanaman hias, ikan hias, atau kreativitas lainnya.

Begitupula dalam dunia pendidikan khusunya dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Adanya pandemi coronavirus sisi positifnya adalah menambah istilah populer dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam kasus atau pemberitaan yang berkaitan dengan coronavirus, ada banyak isilah atau diksi yang digunakan, baik secara resmi digunakan oleh WHO (berbahasa Inggris) yang kemudian dipadankan, maupun resmi digunakan oleh pemerintah (berbahasa Indonesia). Sebagaimana contoh di bawah ini

Contoh-contoh di atas dapat digunakan sebagai bahan pengayaan istilah populer masa pandemi Covid-19 dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Materi-materi yang bisa digunakan misalnya, membuat naskah drama singkat dengan tema coronavirus dan mengandung istilah-istilah populer bertema coronavirus, membuat karangan dengan istilah-istilah populer bertema coronavirus, membuat karya sastra puisi dan cerita pendek yang mengandung istilah-istilah populer bertema coronavirus, dan membuat poster berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang berisi kampanye bahaya coronavirus.

Pembelajaran di atas tentunya mengusung tujuan-tujuan positif dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diantaranya adalah mampu memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, mampu memberikan kesadaran dan kewaspadaan pada peserta didik terkait dampak coronavirus, dan mampu meningkatkan kreativitas peserta didik dalam keterbatasan tatap muka di kelas konvensional tentunya.

Nah, sekarang dari pada tenggelam dalam kesedihan dan keterpurukan tersebab coronavirus yang tak kunjung aus. Mari kita bersahabat dengan keadaan dan ciptakan segala peluang positif karena hal tersebut secara tidak langsung meningkatkan imun tubuh kita.

  • Bagikan