oleh

Rombongan Adeline Travel Kunjungi Gua Ashabul Kahfi, Sejarah Ratusan Tahun Tertidur di Dalam Gua

Apabila rombongan Adeline Travel mengunjungi Yordania, maka akan mengunjungi gua tempat Ashabul Kahfi. Tempat tersebut berjarak delapan kilometer dari Amman, ibu kota Yordania. Pada zaman dahulu, Amman disebut dengan nama Philadelphia. Sebuah kota yang amat indah berhiaskan patung-patung. Dalam persi lain Bukan sebagai dekorasi saja, namun juga sebagai Tuhan atau Dewa yang mereka sembah. Sedangkan dalam persi Tafsir Ibnu Kasir di dalam kisah Nabi dan Rosul versi yang sohih. Bahwa Raja dikyanius, menguasi kerajaan Tarsus. Dan memerintah di kerajaan tersebut selama 30 tahun, ia tidak pernah sakit. Kemudian Ia meminta kepada para mentri dan rakyatnya agar disembah sebagai Tuhan. Karena Ia menobatkan dirinya sebagai Tuhan.

Letak gua tempat tertidurnya Ashabul Kahfi selama ratusan tahun, di antara desa Al-Raqim dan desa Abu ‘Alanda. Orang-orang akan melihat tujuh batu nisan dan akan melihat sebuah batu nisan kecil yang diyakini kuburan Kitmir, anjing Ashabul Kahfi.

Pada tahun 106 M, pasukan Romawi yang dipimpin Raja Dikyanius berhasil menduduki Yordania. Sebelum adanya ekspedisi militer ini, Suriah, Palestina dan Yordania telah mendapat otonomi. Pemerintah pusat Romawi hanya memungut pajak dari negeri-negeri ini. Barulah pada tahun 112 M, Raja Dikyanius berhasil menduduki penuh negeri-negeri ini.

Karena Raja Dikyanius merasa sebagai Tuhan. Ia tak segan mengejar orang-orang beriman seperti pengikut Nabi ISA AS. Saat berhasil menduduki ketiga negeri tersebut, ia mengeluarkan perintah bahwa ia tak segan menghukum mati bagi mereka pengikut Nabi ISA AS dan yang berani menolak Ia sebagai Tuhan, mereka serta orang-orang yang tidak taat pada negara.

Pada masa itulah orang-orang beriman hidup dalam ketakutan. Mereka pun juga terkadang harus menyembah Raja meskipun secara pura-pura. Pemerintah pun kala itu juga akan memeriksa agama yang dianut rakyat mereka. Hal itulah yang menyebabkan cemas lagi takut orang-orang beriman.

Di kota Philadelphia, terdapat tujuh pemuda beriman sedang kebingungan harus berbuat apa. Mereka hanya punya dua pilihan, kekafiran atau kematian. Di saat genting tersebutlah, mereka memutuskan untuk meninggalkan kota itu. Ketika mereka hendak pergi sembari membawa satu anjing mereka, petugas pemeriksa agama menghadang mereka. Namun, mereka berhasil lolos karena mengatakan hendak pergi berburu.

Sejarah menyebutkan, ketujuh pemuda tersebut bernama Maxminyanius, Amlikhius, Motyanius, Danius, Yanius, Aksa Kadtho Niyanius dan Antonius serta anjing penjaga mereka Kitmir. Mereka pergi menuju ke sebuah gua berjarak tujuh kilometer dari kota. Letak tempat itu berada dekat sebuah desa bernama Al-Raqim.

Mereka kelelahan dan merasa ngantuk saat memasuki gua tersebut. Mereka juga cemas jikalau pasukan Romawi menemukan mereka di gua persembunyian mereka. Namun, akhirnya mereka pun tertidur juga karena merasa capek seharian tak tidur.

Sedangkan anjing penjaga mereka, diperintahkan untuk menjaga di depan pintu gua. Mereka tidur dengan penuh ketakutan dan anjing mereka pun juga tak bergerak di depan pintu.

Hari terus berlalu, bulan dan tahun pun silih berganti saat mereka tidur. Semua penduduk kota membicarakan mereka. Mereka tak mengetahui nasib ketujuh pemuda yang tiba-tiba menghilang.

Lama-kelamaan, kisah ketujuh pemuda tersebut hilang dan hanya menjadi sejarah sebagai pemuda-pemuda yang hilang.

Tak disangka, ketujuh pemuda tersebut tertidur selama tiga abad. Mereka terbangun karena kitmir, anjing penjaga mereka tiba-tiba menggonggong. Bagi mereka, rasanya mereka tertidur seharian penuh karena saat terbangun matahari hendak terbenam. Mereka tidak mengerti dan masih timbul perdebatan di antara mereka soal berapa lama mereka tertidur.

Keesokan paginya, karena merasa lapar, mereka ingin membeli makanan. Salah satu dari mereka kemudian mengeluarkan beberapa koin emas guna membeli makanan. Salah satu di antara mereka juga rela untuk pergi ke kota membeli makanan. Pemuda tersebut segera meninggalkan gua dan turun gunung. Ia tak melihat pemandangan alam yang berubah signifikan saat dalam perjalanan menuju kota. Benar, mereka masih belum mengerti, berapa lama mereka tertidur.

Sesampainya di pasar, pemuda tersebut heran dan kebingungan. Menurutnya kota tersebut telah berubah dan ia salah tujuan. Orang-orang pun juga heran melihat penampilan pakaian pemuda tersebut. Pemuda itu mengenakan pakaian kuno padahal semuanya telah memakai pakaian model baru. Semua jauh berbeda dan memang sudah berubah. Hanya saja pemuda tersebut belum menyadarinya.

Hingga ketika ia selesai memilih dan hendak membayar makanan yang dibeli, penjual makanan heran dengan koin emas pembayaran pemuda itu. Penjual mengatakan itu adalah uang kuno zaman Raja Dikyanius. Disangkanya juga, pemuda tersebut telah menemukan harta karun berabad lalu yang mulai hilang. Penjual menginginkan koin pemuda itu dan berjanji tak akan mengatakan pada semua orang.

Pemuda tersebut masih tak mengerti dengan maksud penjual makanan. Maka penjual itu mengeluarkan beberapa koin yang berlaku pada masa itu. Karena tetap merasa bukan penemu harta karun dan koin-koin yang ia miliki itu berlaku, pemuda tersebut hanya mengatakan bahwa ia tidak memiliki apa-apa kecuali koin-koin itu. Sontak penjual mencengkeram tangan pemuda tersebut dan berteriak yang membuat semua orang berkumpul.

Pemuda itu ketakutan sambil berteriak agar tidak meyerahkan pada pasukan Dikyanius. Hal itu membuat orang-orang tertawa. Ya, Dikyanius sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Negeri ini sekarang berada di bawah pimpinan Raja Abdul Rahman. Raja adalah orang baik dan beberapa hari lalu telah memeluk agama yang diajarkan Nabi ISA AS.

Seseorang berusia lanjut mengetahui kisah pemuda tersebut dari cerita neneknya. Ketika ia mengatakan tentang si pemuda dan sahabat-sahabatnya, ia hampir pigsan dan jatuh ke tanah. Berita mengenai pemuda-pemuda yang tertidur panjang menyebar bagai kilat. Raja pun mendengarnya dan segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput dan menghadapkan pemuda tersebut ke istana.

Saat tiba di istana, Raja menanyakan kisah mereka dan hendak menjemput sahabat-sahabatnya yang masih di tempat persembunyian. Segera saja, pemuda bersama Raja yang diikuti pula oleh beberapa pasukan menuju gua persembunyian. Salah seorang sahabat pemuda itu merasa khawatir akan keselamatan temannya. Maka ia keluar gua dan mendaki gunung. Ia kaget malah melihat iring-iringan tentara hendak menuju ke tempat persembunyian mereka. Segera ia berlari menuju ke sahabat-sahabatnya.

Ia menceritakan apa yang ia lihat di puncak gunung. Mereka merasa tak karuan hatinya. Cemas, khawatir dan serba takut bercampur menjadi satu. Tiba-tiba mereka dikagetkan akan kedatangan temannya yang kemudian menceritakan kejadian sebenarnya tentang berapa lama mereka tertidur. Pemuda tersebut memohon masuk sendiri ke gua tanpa satupun orang menemaninya. Permintaannya dikabulkan Raja dan ia pun masuk sendiri.

Pemuda tersebut segera masuk ke dalam gua dan menceritakan kejadian yang ia alami. Para pemuda yang berada di gua menangis sejadi-jadinya mengetahui akan kebenaran cerita mengenai panjangnya tidur mereka. Mereka menangis karena karena takut dan rindu kepada ALLAH SWT. Mereka memohon agar ALLAH SWT mematikan mereka karena mereka milik masa lalu. ALLAH SWT mengabulkan permintaan mereka. Saat itu juga ketujuh pemuda dan anjingnya telah wafat.

Sementara itu, Raja dan pasukannya yang menunggu di luar gua masih bersabar menunggu pemuda-pemuda tersebut keluar. Namun, setelah lama tak muncul, akhirnya mereka pun memutuskan masuk ke dalam gua. Mereka melihat suatu pemandangan menakjubkan di dalam gua. Mereka melihat pemuda-pemuda dan anjingnya telah wafat. Mereka pun bersujud atas peristiwa kekuasaan ALLAH SWT yang luar biasa. Dengan mata kepala mereka, melalui Ashabul Kahfi, mereka mengerti akan kebesaran ALLAH SWT.

News Feed