oleh

Wabah Virus Corona, Ketua Umum Masyarakat Pesantren Minta Pemerintah Keluarkan Sertifikat Haram

Jakarta – Saat ini, dunia sedang dihebohkan dengan merebaknya salah satu virus jenis baru yaitu virus corona (NCoV). Virus mematikan yang berasal dari Wuhan, China ini memiliki gejala yang mirip dengan Server Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Virus ini disebut-sebut berasal dari kelelawar dan pertama kali mewabah di Wuhan, China. Hingga kini belum ada obat atau vaksin yang dapat mencegah atau mengobati wabah penyakit itu.

Ketua Umum Masyarakat Pesanten KH. Hafidz Taftadzani mengatakan bahwa sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk memakan makanan yang baik dan halal. Dalam Al-Quran dijelaskan memakan makanan yang haram dapat menimbulkan penyakit dan terbukti telah menelan banyak korban.

“Daging babi, anjing, Kelelawar, ular dan hewan-hewan yang telah diharamkan di dalam Al-Quran serta minuman keras dan jenis narkotika lainnya sudah terbukti banyak mengambil korban jiwa. Tentu ini harus diperhatikan dengan serius,” ucap KH. Hafidz di kantornya, Jl. Keramat Basuki, Kp. Melayu, Jakarta Timur.

KH. Hafidz menjelaskan, firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 173 yang artinya “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan yang terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesunggunnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Firman Allah ini menunjukkan makanan haram sudah jelas diterangkan dalam Al-Quran dan menjadi pedoman bagi umat Islam agar jangan sampai memakannya,” jelas Pengasuh Pondok Pesatren Darul Ulum, Cipari, Cilacap.

 

Sertifikat Haram
Ketua Umum Masyarakat Pesantren meminta pemerintah melalui Kementerian Agama diharapkan mampu menerbitkan Sertifikat Haram, dalam rangka untuk melindungi umat muslim yang tidak ikut mengkonsumsi jenis makanan haram.

“Kementerian Agama harus lebih komprehensif dalam memberikan sertifikat haram, bukan saja sertifikat halal. Apa yang telah disampaikan dalam Al-Quran mengenai makanan haram banyak mengandung hikmah yang bisa diambil untuk diterapkan kepada umat muslim di Indonesia,” jelas Alumnus Universitas Ummul Quro, Makkah.

Selain dasar untuk penerbitan sertifikat haram, dibalik haramnya makanan yang dilarang oleh Allah SWT ternyata banyak madharat yang didapat. Ular, kelelawar, anjing, tikus dan babi adalah jenis makanan yang diharamkan dalam Al-Quran.

“Saat ini sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang mengeluarkan sertifikat halal, kenapa tidak sekalian sertifikat haram juga. Kalau yang halal kan itu kan sudah jelas bahwa segala sesuatunya itu mubah artinya halal kecuali yang diharamkan oleh Allah,” terangnya.

Beliau menguraikan tentang beberapa kriteria binatang yang masuk dalam kategori haram untuk dimakan oleh umat Islam yaitu binatang melata, binatang yang mempunyai taring seperti kelelawar, binatang yang memakan daging seperti harimau atau anjing, binatang yang hidup di dua alam seperti katak dan lainnya.

“Perlu memberikan sertifikat haram dalam rangka melindungi rakyat yang mayoritas umat Islam. Jadi kita tidak ingin mengislamkan tapi melindungi konsumen muslim agar aman, agar tidak memberikan dosa,” urainya.

Di beberapa daerah di Indonesia, memakan makanan haram menurut Islam sudah ada sejak dulu, seperti memakan sate anjing, bahkan di pasar tradisional di Sulawesi juga sudah ada. Oleh karena itu, perlunya menerangkan kepada mereka bahwa makanan tersebut menurut Islam adalah makanan yang haram.

“Mungkin di sana mayoritas penduduknya adalah umat non muslim, padahal makanan tersebut adalah haram bagi Islam, dengan adanya sertifikat haram setidak-tidaknya mereka mendengarkan dan tahu kenapa Islam melarang,” ucapnya.

KH. Hafidz menghimbau kepada seluruh masyarakat pesantren supaya tidak panik tapi juga harus menjaga kewaspadaan dan menjaga makanan sesuai dengan anjuran Al-Quran dan sunnah Rasul.

“Makan yang baik dan halal kan lebih menjamin dari segi madharatnya, daripada memakan makanan yang haram,” pungkasnya.

News Feed