oleh

Diduga Kuat Unjuk Rasa Mahasiswa Universitas Prof. Dr Moestopo Ditunggangi Oknum

Jakarta – Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Prof. Dr. Moestopo terhadap kampus mereka akhir-akhir ini menjadi sorotan berbagai pihak, terutama pihak pengurus yayasan.

Tato selaku ketua pengurus yayasan mengatakan, aksi mahasiswa tersebut diduga kuat ditunggangi oleh oknum barisan sakit hati yang ingin menurunkan Rektor Prof. Rudy Harjanto dan Pembina Yayasan Prof. Thomas Suyatno Universitas Prof. Dr. Moestopo, “Aksi mahasiswa ini bukan murni dari mahasiswa, ada oknum yang bermain agar universitas dan yayasan hancur di mata publik,” jelas Tato

Lebih lanjut Tato menjelaskan, mahasiswa sebenarnya tidak tahu persis permasalahan yayasan dan universitas, tetapi mereka sengaja diprovokasi seolah-olah yayasan dan universitas gagal mewujudkan tata kelola yang baik. Harusnya jika memang ada kelemahan dan kekurangan dalam tata kelola disampaikan secara tertulis atau melalui dialog/diskusi.

Tapi faktanya berbeda, justru tuntutan utama mereka bukan fokus pada masalah tata kelola yang baik, melainkan menurunkan Rektor Prof. Rudy Harjanto dan Pembina Yayasan Prof. Thomas Suyatno. Ini strategi jahat mereka untuk menghancurkan kredibilitas yayasan dan universitas. Mereka itu barisan sakit hati yang sangat disayangkan diduga ada keterlibatan dari oknum pejabat struktural fakultas dan oknum cucu-cucu pendiri yayasan dan universitas yang menggugat yayasan di pengadilan yang berdampak pada status yayasan diblokir. Justru mereka sebenarnya yang secara sadar atau tidak sadar memperburuk citra yayasan dan universitas.

Saat ini, ada gugatan tentang keabsahan yayasan dari penggugat yakni Pak Lukas dan Pak Endar hingga tingkat kasasi, yang sebelumnya ditingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi dimenangkan oleh yayasan. Yayasan berkali-kali sudah duduk bersama dan menempuh jalur perdamaian, dan menyarankan agar pak Lukas dkk mencabut gugatan perkara. Namun pak Lukas dkk tetap bersikeras menggugat yayasan agar dapat mengganti kepengurusan yayasan dan mengeluarkan Prof. Thomas dari pembina yayasan.

Sebagai saudara dan cucunya eyang Moestopo, Tato sangat menyayangkan permasalahan ini dibiarkan berlarut larut, harusnya semua dapat memahami bahwa berdasarkan UU no. 16 tahun 2001 jo. UU no. 28 tahun 2004 tentang yayasan, bahwa yayasan itu sudah menyesuaikan aturan perundangan dan bukan milik keluarga secara utuh, sehingga bisa saja orang lain yang dinilai berkompeten dan mempunyai dedikasi tinggi sesuai maksud dan tujuan yayasan masuk dalam jajaran pembina atau organ yayasan lainnya.

“Seperti Prof. Thomas yang dipermasalahkan saat ini, beliau ini kan sudah terbukti berhasil mengelola beberapa yayasan dan menjadi rektor atau ketua seperti saat beliau di Universitas Atmajaya, Perbanas dan lain-lain,” ujar Tato.

Tato sendiri menilai ada yang aneh dengan masalah ini, menurut dia, apa salah yayasan dan universitas merekrut prof Thomas untuk mengembangkan yayasan maupun universitas, dan sudah terbukti yayasan dan universitas lebih berkembang, pembangunan bertambah, FKG yang berpuluh puluh tahun tidak bisa A, kini terakreditasi A, RSGM mendapat akreditasi paripurna, pendapatan tidak hanya bersumber dari penerimaan mahasiswa, tetapi ada sumber lain. Jadi aneh sekali tuntutan dalam aksi ini mengatakan universitas menurun, tetapi ujung-ujungnya turunkan Prof. Thomas Suyatno dan Rektor, tidak ada relevansinya dengan kebutuhan mahasiswa, sehingga dugaan kami kuat demo mahasiswa ini ditunggangi oleh kepentingan kelompok tertentu.

Tato melihat ada sesuatu yang ganjil dalam setiap aksi mahasiswa tersebut, peserta aksi didominasi oleh oknum-oknum alumni, oknum dosen dan oknum mantan pejabat yang merasa sakit hati, mahasiswa justru sedikit. Dengan Tegas Tato mengatakan, kalau memang berbicara untuk perbaikan yayasan dan universitas mari sampaikan usulannya kepada yayasan atau universitas, tapi jangan membuat gaduh seperti ini, di sebar-sebar ke media, dibilang melanggar HAM, ini jelas provokasi, selama ini tidak ada yang mengadu ke mana pun kalau ada pelanggaran di Moestopo, ini kan hanya akal-akalan dari kelompok tertentu yang panik, agar mendapat dukungan untuk melawan pimpinan yayasan. Pasalnya, permasalahan gugatan perkara oleh pak Lukas dkk sudah kalah 2x baik di tingkat PN, dan PT. Jadi mohon semua pihak jangan ikut-ikutan, karena ini konflik keluarga, kawal saja.

Mengenai kebijakan yang terkait dengan kebutuhan mahasiswa itu ranahnya universitas, kalau terkait penempatan pejabat atau seseorang itu ranah kami selaku pengurus yayasan.

“Kasihan mahasiswa diseret-seret ke ranah yang bukan lingkupnya, bahkan ada yang dianiaya oleh oknum-oknum kelompok aksi. Pak Lukas dkk jika tidak mau damai, iya tunggu saja hasil proses kasasi, kan saat ini pak Lukas dkk sedang mengajukan kasasi, hormati proses hukum yang sedang berjalan, jangan melebar ke mana-mana,” tutup Tato.

News Feed