Kemendagri Gelar Seni Budaya Nusantara dan Dialog Kebudayaan

  • Bagikan

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum menyelenggarakan Temu Tokoh Raja Sultan, Datu, Pelingsir, Pemangku Adat Istiadat, Budayawan, dan Ormas Bidang Kebudayaan di Daerah dalam gelaran bertajuk Gelar Seni Budaya dan Dialog Kebudayaan, Kamis (19/9/2019) di , Royal Jelita Hotel jalan Ahmad Yani KM 45 No.02 Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan . Tujuannya untuk merajut Bhinneka Tunggal Ika dan membangun harmoni kebangsaan untuk Indonesia sejahtera.

Sebanyak 30 tokoh, raja, sultan, datu, pelingsir, pemangku adat istiadat, budayawan, dan ormas bidang kebudayaan di daerah diundang dalam gelaran bertajuk Gelar Seni Budaya dan Dialog Kebudayaan tersebut. Hadir pada acara tersebut Ketua Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia ( LN-PKRI) dan sekaligus juga adalah ketua Dewan Adat Nasional, PYM. Prof. DR.E.Irwannur Latubual,MM,MH, Raja Pulau Buru Ke XXI, Phd. DYM Nuzjludin Sah,Sultan Kesultanan Ternate. DYM Nuzuar Maharaja Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui. DYM Laode Ahlul Musafi Raja Kolisusu Buton, YM R.Mohammad. Muklas Aryamangkurat Pangeran Muda Senopati Caruban Nagari Cirebon, Wasekjen Dewan Adat Nasional.

Budaya daerah merupakan pembentuk jati diri bangsa, kekayaan bangsa yang harus diperhatikan secara serius dan seksama terutama dalam memajukan era globalisasi saat ini. Budaya daerah dapat memberi andil yang sangat besar dalam pembentukan jati diri bangsa dan proses regenerasi bangsa.
ketua Dewan Adat Nasional, PYM. Prof. DR.E.Irwannur Latubual,MM,MH, Raja Pulau Buru Ke XXI, melalui pesan Whatshapnya kepada Berita Pantau mengatakan Keberagaman Kebudayaan daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah dinamika perkembangan dunia.

 

“Kebudayaan harus dikembangkan dengan tetap menghargai keragaman dan perbedaan; mengukuhkan solidaritas sosial dan daya rekat masyarakat serta membangun harmoni sosial, yaitu memberi pengakuan terhadap keunikan dan identitas khusus pada kelompok masyarakat.” Ujarnya.

Dengan adanya permendagri PYM. Prof. DR.E.Irwannur Latubual,MM,MH mengharapkan pemerintah pusat /daerah dan seluruh dewan adat dan raja raja nusantara bisa bersinergi untuk memajukan budaya melalui pariwisata “ Melalui Permendagri ini para Raja, Sultan, Datu, Pelingsir, Pemangku Adat Istiadat, Budayawan dan Ormas Bidang Kebudayaan diharapkan dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam pelestarian dan pengembangan budaya daerah,” harap ketua Dewan Adat Nasional, PYM. Prof. DR.E.Irwannur Latubual,MM,MH, Raja Pulau Buru Ke XXI.

Ditempat yang sama DYM Nuzuar Maharaja Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui mengatakan ,Sejarah telah mencatat Raja, Sultan, Datu, Pelingsir, telah melepaskan kedulatan serta rela memberikan miliknya demi persatuan dan kesatuan bangsa.

 

“Saya berharap, Raja, Sultan, Datu, Pelingsir, sekarang tetap meneruskan leluhurnya memberi andil dalam menjaga NKRI dan budaya luhur bangsa. Selain menjalankan fungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan adat budaya dan nilai-nilai sosial budaya, juga sebagai pemersatu dari keberagaman etnik, agama, dan kepercayaan dan yang terpenting bisa menjadi perekat dalam menjaga keutuhan NKRI.” Ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Muklas Aryamangkurat Pangeran Muda Senopati Caruban Nagari Cirebon, Wasekjen Dewan Adat Nasional. “Dengan memajukan kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia harapannya melalui kegiatan ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan peran serta dan tanggung jawab Raja, Sultan, Datu, Pelingsir Pemangku Adat Istiadat, budayawan dan Ormas bidang kebudayaan dalam ikut melestarikan budaya bangsa, memelihara integritas nasional dan menguatkan jati diri bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, semangat kekeluargaan dan gotong royong, jiwa patriotisme nasionalisme, dan sikap toleransi, serta senantiasa menjunjung tinggi etika dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,”terangnya.

Tidak hanya itu DYM Laode Ahlul Musafi Raja Kolisusu Buton mengatakan bahwa Budaya daerah merupakan pembentuk jati diri bangsa, kekayaan bangsa yang harus diperhatikan secara serius dan seksama terutama dalam memajukan era globalisasi saat ini. Budaya daerah dapat memberi andil yang sangat besar dalam pembentukan jati diri bangsa dan proses regenerasi bangsa. “Dengan semakin beratnya tantangan yang sedang dihadapi oleh bangsa dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, sudah saatnya kita kembali kepada nilai-nilai kearifan budaya lokal yang sudah banyak ditinggalkan. Sikap toleransi, gotong royong, musyawarah mufakat merupakan kearifan lokal yang harus kita kedepankan sebagai identitas jati diri bangsa Indonesia,”tutupnya.

( POLMAN MANALU)

  • Bagikan