oleh

Tanggapan Ketum Asphurindo Soal Penghapusan Visa Progresif

Jakarta — Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji, Umrah dan In-bound Indonesia (Asphurindo) Magnatis Chaidir menanggapi kebijakan Arab Saudi tentang penghapusan visa umrah progresif SR 2000. Sebagai gantinya, jamaah umrah yang akan melaksanakan ibadah umrah dikenakan visa sebesar SR 300.

“Informasi ini kami peroleh setelah rapat dengan Dyof Alrahman Project (DARP) Kingdom of Saudi Arabia Goverment Project to Develop Umroh and Hajj Sector. Lembaga ini langsung dibawah Putra Mahkota Muhamad bin Salman (MBS),” terang Magnatis dalam rilis siaran pers, Rabu (11/09/2019).

Ia menjelaskan, selama dua tahun ini pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memberlakukan kebijakan visa progresif sebesar SR 2000 bagi yang melakukan umroh yang kedua dan seterusnya dalam satu musim. Sebagai gantinya, saat ini para jamaah yang mau melaksanakan ibadah umrah harus membayar SR 300 atau Rp 1,2 juta yang berlaku bagi semua calon jamaah haji umroh.

“Ini yang menyebabkan para penyelenggara PPIU menghadapi masalah baru dengan adanya kenaikan visa tersebut. Sementara dalam quotation umroh memakai harga yang juga baru namun kemudian berubah seketika tampa sosialisasi terlebih dahulu hal-hal dalam pertemuan tersebut, ” terang Magnatis.

Adapun biaya visa baru adalah sbb :

(1) SR 300 dikenakan kepada semua calon jamaah meski belum pernah umrah sebagai biaya visa umrah.

(2) SR 93 masih tetap dikenakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya sebagai biaya sistem.

(3) SR 75 tambahan biaya untuk premi asuransi kesehatan

Total Sar 468/ USD 127*.

“Biaya-biaya tersebut diatas akan diberlakukan mulai 27 September 2019. Mereka minta kita maklum sebagaimana kita juga maklum untuk mendapatkan visa negara-negara lain,” ucap Magnatis.

Menurut Magnatis, kendala lain yang muncul dalam penyelenggaraan ibadah umrah adalah adanya aturan SIKOPATUH karena untuk bisa entry visa harus membayar terlebih dulu BRN (booking Regestration Number) untuk transfortasi dan hotel di Saudi Arabia sementara dalam sistem SISKOPATUH ada 3 tahap bayaran dan baru dana tersebut dapat dicairkan ntuk engurusan umroh para jamaah.

“Selama ini visa umroh free namun sekarang berbayar dan setara dengan e visa atau visa turis. Tentu ini akan memberatkan umat muslim Indonesia yang akan berumroh karena Masjidil Harom dan Masjid Nabawi adalah milik Umat Islam dunia yang berada di Saudi Arabia, walaupun visa umroh berbayar harusnya berbeda dengan visa yang lainnya karena ini dalam rangka Ibadah,” pungkas Magnatis.

News Feed