Pendidik Dituntut Terampil dalam Berpikir Kritis

  • Bagikan

Oleh: Ismail Marzuki, M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA Sorong)

Berpikir kritis dalam proses pembelajaran menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh pendidik bersama siswa. Pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah harus dilakukan dengan berbasis kompetensi, di mana pendidik dalam proses pembelajarannya harus melatih peserta didik untuk selalu berpikir kritis selama pembelajaran dilakukan.

Namun kenyataan, sampai saat ini banyak dari pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru hanya sampai pada tahap pemahaman saja. Lalu, siapa yang mesti di salahkan dalam keadaan ini?

Alec Fisher (2009) dalam bukunya menyatakan, bahwa sebagian besar pengajar mengajarkan berpikir kritis secara tidak langsung atau secara implisit, yaitu sembari menyampaikan isi pelajaran mereka. Jika pengajar melakukan proses seperti ini, lambat laun para pendidik mulai meragukan efektivitas mengajarkan keterampilan berpikir kritis secara langsung.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Fisher, hampir sebagian besar siswa belum sama sekali memahami keterampilan berpikir kritis. Ini adalah masalah besar dalam dunia pendidikan, bahwa pendidik harus sadar bagaimana pentingnya keterampilan berpikir.

Berpikir kritis adalah sebuah keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Oleh karena itu, pendidik harus melatih dirinya terlebih dahulu, kemudian menerapkannya dalam proses pembelajaran yang dilakukan sembari melatih siswa dalam berpikir kritis. Jika hal demikian terus dilakukan oleh seorang pendidik di dalam kelasnya, maka transformasi sosial bisa dilakukan.

Kemampuan berpikir kritis pendidik harus diterapkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Dan seorang pendidik harus tahu perannya sebagai pengajar, peran siswa dalam belajar, dan peran materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa.

Merencanakan Pembelajaran yang Esensial

Seorang pendidik yang hebat harus menggunakan berpikir kritisnya dalam merencanakan pembelajaran. Memilih materi yang esensial bukanlah hal yang mudah, membutuhkan pikiran yang kritis dalam membuat perencanaan.

Dalam memilih materi yang esensial ini, pendidik hendaknya bertanya, materi apa yang bisa meningkatkan kompetensi siswa? Bagaimana cara mengembangkannya? Strategi apa yang tepat digunakan untuk materi ini? Metode apa yang pas digunakan? Dan pertanyaan lain yang berhubungan dengan pembelajaran yang akan dilakukan.

Ini menunjukkan bahwa, seorang pendidik harus berpikir seribu kali  sebelum melaksanakan pembelajaran. Keterampilan berpikir kritis ini sebagai modal bagi pendidik dalam merencanakan pembelajaran yang bermutu.

Memberikan Pembelajaran yang Terbaik

Pendidik yang hebat akan selalu memberikan yang terbaik kepada peserta didiknya. Di mana, setiap melaksanakan pembelajaran, seorang pendidik berupaya  meningkatkan kompetensi peserta didiknya selama proses pembelajaran dilaksanakan.

Tidak hanya itu, pendidik juga berupaya melatih siswa agar berpikir kritis terhadap permasalahan-permasalah pembelajaran yang dihadapi. Baik dalam melatih siswa berargumen, memecahkan masalah, mencari solusi dan kegiatan-kegiatan lain saat berlangsungnya proses pembelajaran.

Pemilihan pendekatan, strategi, model, metode, dan teknik pembelajaran  yang beragam akan memberikan kesan kepada peserta didik dan pembelajaran tidak terkesan membosankan. Guru yang miskin pendekatan, strategi, model, metode, dan teknik pembelajaran menunjukkan bahwa guru tersebut tidak mencerminkan keterampilan berpikir kritis.

Bagaimana bisa mengajarkan keterampilan berpikir kritis sedangkan ia sendiri tidak pernah tahu dan peduli pada kompetensi yang harus ditingkatkan? Ini menunjukkan bahwa, keterampilan berpikir kritis harus dimiliki oleh setiap pendidik dan ini juga sebagai bentuk kesadaran, bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan maksimal dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Memberikan Penilaian yang Konstruktif setiap Saat

Pendidik harus punya sudut pandang yang luas tentang bentuk-bentuk penilaian. Jangan sampai penilaian hanya dianggap sebagai hasil akhir dari koreksi ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

Penilaian harus diperluas dan bersifat individual. Artinya, seorang pendidik harus memperluas lensa pembelajarannya, sehingga mengetahui tingkat pengetahuan peserta didiknya dan bisa dikelompokkan dalam penilaian-penilaian.

Penilaian juga harus disertai dengan respon yang konstruktif oleh pendidik dengan memberikan pengayaan, pembimbingan, dan pembinaan yang menunjang mata pelajaran yang diajarkan. Sehingga di dalam kelas tidak ada lagi siswa yang tertinggal.

Pendidik pada dasarnya adalah pembelajar. Jika kesadaran ini sudah dimiliki oleh seorang pendidik dan mengakar sebagai prinsip, maka secara praktik pendidik akan selalu berpikir kritis baik dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan memberikan penilaian.

Sehingga akan lahir generasi-generasi yang bisa menciptakan pekerjaannya sendiri. Karena sudah terbiasa berpikir kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi di sekelilingnya.

Oleh karena itu, keterampilan berpikir kritis ini hendaklah selalu diasah oleh pendidik kemudian dipantulkan kepada siswa melalui pembelajaran yang dilakukan baik di kelas maupun di luar kelas.

  • Bagikan