oleh

PB HMI Sesalkan Adanya Temuan Rekayasa Laporan Keuangan PT Garuda Indonesia

JAKARTA, Siaranindonesia.com-Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Bidang Kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Romadhon menyesalkan temuan bahwa PT Garuda Indonesia terbukti melakukan financial enginering (rekayasa laporan keuangan), dalam Laporan Keuangan Tahunan (LKT) tahun 2018. Garuda Indonesia yang pada awalnya dilaporkan mendapatkan laba berjalan 5,01 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp70,76 miliar, pada kenyataannya justru mencatatkan rugi berjalan sebesar 244.96 juta dolar AS atau setara Rp3,45 triliun.

“Sangat disesalkan, karena Garuda Indonesia sebagai sebagai perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilarang merekayasa laporan keuangan. Sehingga wajar jika Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) meminta restatement penyajian laporan keuangan Garuda untuk tahun 2018,” kata Romadhon dalam keterangan resminya kepada awak media, Selasa, (30/07/2019).

Romadhon mencurigai, ada campur tangan dari pihak tertentu untuk mengarahkan hasil laporan keuangan pada tujuan tertentu sebagaimana dilakukan oleh dua Kantor Akuntan Publik (KAP). Ia juga menegaskan dalam enam tahun terakhir, Garuda Indonesia tercatat sudah mengalami tiga kali kerugian, belum termasuk pembukuan untuk laporan keuangan tahun 2019.

“Diakui atau tidak rekayasa laporan keuangan Garuda salah satu skandal paling buruk yang dilakukan sebuah perusahaan besar negara,” tuturnya.

Romadhon menjelaskan tahun 2014 misalnya, Garuda Indonesia bahwa mengalami kerugian sampai 371 juta dolar AS, beruntung pada tahun berikutnya Garuda Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar 77,9 juta dolar AS sejak ada pergantian Direktur Utama Garuda Indonesia dari Emirsyah Satar kepada Arif Wibowo, yang sebelumnya menjadi petinggi di Citilink Indonesia. Ia juga menambahkan Alih-alih bisa mempertahankan tren positif, tahun 2017 Garuda Indonesia kembali mencatatkan kerugian sebesar 213,4 juta dolar AS.

“Mesti diakui bahwa ini menunjukkan Garuda Indonesia membutuhkan sosok yang bukan saja punya kapasitas dan kompetensi tetapi juga harus memiliki komitmen dan gambaran besar. Suapaya Garuda Indonesia lepas dari bayang-bayang kerugian,” tegasnya.

Soal rekayasa keuangan, menurut Romadhon, kesalahan besar yang dilakukan Garuda Indonesia seharusnya menjadi momentum dan bahan evaluasi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno. Karena secara moral mereka juga ikut bertanggung jawab atas laporan keuangan yang diteken direksi.

“Skandal ini sudah sepantasnya menjadi bahan evaluasi bagi Menteri BUMN, Rini Soemarno untuk mengkoreksi secara komprehensif kinerja direksi dan komisaris. Karena bagaimanapun, secara moral mereka juga harus ikut bertanggung jawab, karena laporan keuangan diteken direksi,” pungkasnya.

News Feed