Student Center Learning Vs Teacher Center Learning

  • Bagikan

Oleh: Teguh Yuliandri Putra, M.Pd. (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA SORONG)

Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Upaya yang tepat untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogyanya berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik melalui inovasi-inovasi dalam prosesnya, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problematika kehidupan yang dihadapinya, pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik.

Konsep pendidikan terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problematika yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

Seperti yang telah kita pahami bersama, belajar merupakan aktivitas interaksi aktif individu terhadap lingkungan sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Sementara itu, pembelajaran adalah penyediaan kondisi yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.

Penyediaan kondisi dapat dilakukan dengan bantuan pendidik (guru) atau ditemukan sendiri oleh individu (belajar secara otodidak). dalam pendidikan, kedua istilah untuk penyediaan kondisi belajar ini dapat disebut dengan istilah TCL (Teacher Centered Learning) dan SCL (Student Centered Learning).

Perbandingan antara keduanya sering menjadi permasalahan yang cukup rumit. Pasalnya, di era pendidikan zaman sekarang, kurikulum menuntut untuk sistem pembelajaran haruslah berbasis SCL, namun realitanya, pendidikan Indonesia masih rata-rata memakai sistem TCL. Tak jarang, sekolah masih menomorsatukan sistem TCL.

Pada pembelajaran model Teacher Centered Learning, guru lebih banyak melakukan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk ceramah, siswa sebatas memahami sambil membuat catatan bagi yang merasa memerlukannya. Pada model ini guru menjadi pusat peran dan seakan-akan menjadi pusat ide dan ilmu. Hal inilah yang masih dipegang teguh oleh mayoritas guru di kalangan pendidikan.

Hal yang perlu dipahami, dalam kaidah pembelajaran atau proses transfer ilmu. TCL ataupun SCL sama-sama memiliki nilai positif negatif, namun di zaman seperti saat ini menerapkan SCL menjadi sebuah keharusan. Artinya, sebuah pendekatan pembelajaran hendaklah berpusat pada siswa dan diharapkan mampu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap, dan prilaku.

Itulah mengapa, setiap guru harus mampu mengkonsepsikan sistem pembelajarannya menjadi sistem yang mengutamakan proses belajar para siswanya, bukan lagi mengutamakan hasil akhir belajar siswanya yang diukur melalui skema angka 1-100 ataupun konversi huruf (A, B, C, D, E).

Namun, yang menjadi poin pentingnya dari hal ini, adalah menyadarkan masyarakat awam, bahwa pendidikan bukan hanya semata-mata persoalan tentang nilai akhir, melainkan adalah paradigma perubahan sikap mereka. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa sistem pembelajaran baik itu SCL ataupun TCL akan mempengaruhi pola sikap siswa pasca lulus.

  • Bagikan