Benang Kusut Pendidikan Karakter

  • Bagikan

Oleh: Abdul Hafid (Dosen Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong)

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika perubahan struktur kehidupan masyarakat Indonesia secara menyeluruh mengalami perubahan fantastik. Keadaan pendidikan karakter bangsa Indonesia saat ini sudah berada dalam titik yang sangat menghawatirkan dan menakutkan.

Sebagai implikasi dari kemunduran pendidikan karakter itu, sifat tulus, luhur, mulia, jujur, kesopanan, dan tanggung jawab terkikis ketika digantikan oleh rasa cemas, kekerasan, dan perilaku-perilaku yang menyimpang lainnya. Perilaku-perilaku ini bukan hanya dilakukan oleh preman-preman jalanan, pencopet, penjudi, dan istilah-istilah lain yang mewakili manusia-manusia yang tidak beradab, karena memang melakukan tindakan-tindakan yang biadab.

Akan tetapi, sudah merambah diseluruh lapisan masyarakat, seperti pemuda jalanan/kampung, akademisi, pejabat-pejabat negara, bahkan pelajar, mahasiswa,  yang menjadi harapan bangsa di masa-masa yang akan datang, juga seakan-akan dirasuki oleh tindakan yang dipandang tidak layak ini. Bagaimana tidak tidak hampir setiap hari kita disugukan dengan tontonan kekerasan seksual terhadap anak, pencurian, narkoba, pembunuhan, perang antarkampung dan sebagainya.

Bahkan yang lebih anehnya lagi ada oknum dari pejabat negara yang memperlihatkan tindakan yang tidak layak seperti tersangkut kasus narkoba, video porno, bahkan kasus korupsi yang semakin merajalela. Tindakan yang demikian, tidak dapat dibenarkan dengan argumentasi apapun.

Tindakan-tindakan yang nonedukatif/tidak berkarakter yang terjadi sekarang ini sangat relevan dengan istiah yang populer sekarang ini yaitu ”zaman edan”  zaman yang ditandai dengan kemerosotan akhlak, aspek moralitas, dan etika kesantunan, tindak kekerasan, serta lemahnya jati diri sebagai manusia Pancasialis.

Atribut yang melekat pada manusia Indonesia sebagai manusia Pancasila yang sopan, ramah, toleran, cinta damai, dan sebagainya yang mencerminkan karakter yang terpuji dari masyarakat Indonesia secara perlahan namun pasti mulai tergerus oleh perkembangan dan kemajuan zaman. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya ketidakadilan, kurangnya rasa solidaritas, telah terjadi dalam lembaga pendidikan kita.

Implikasi dari kemunduran pendidikan, khususnya pendidikan karakter pada generasi muda bukan hanya terjadi pada satu dimensi saja, tetapi multidemensi bahkan multiinstitusi. Ary Ginanjar mencatat beberapa hal penting terkait dengan potret Indonesia sekarang ini. Pertama, sebanyak 42,3 % pelajar SMP dan SMA di Ciancur telah melakukan hubungan seks di luar nikah.

Menurut pengakuan mereka, hubungan seks itu dilakukan atas dasar suka sama suka, bahkan ada yang berganti-ganti pasangan. Penelitian ini dilakukan oleh Annisa Foundation (AF) pada bulan Juli-Desember 2006 terhadap 412 respnden yang berasal dari 13 SMP dan SMA negeri dan swasta. Kedua, di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 2-2,6 juta kasus aborsi untuk setiap 100 kehamilan, 30% diantaranya diperkirakan dilakukan oleh penduduk berusia 12-24 tahun. Informasi ini didasarkan pada data Organisai Karakter Dunia (WHO: World Health Organization).

Tergerusnya karakter generasi muda Indonesia berdampak besar pada kemampuan akademis anak-anak Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei “Trends in Internation Manth and Science” tahun 2007, yang dilakukan oleh Global Instite, menunjukkan hanya 5 % peserta didik Indonesia yang mampu mengerjakan soal penalaran berkategori tinggi, padahal peserta didik di Korean dapat mencapai 71 %.

Sebaliknya, 78% peseta didik Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah, sementara siswa Korean hanya 10% . Data lain diungkapkan oleh Programme for International Student Assessment (PISA, hasil Studi tahun 2009 menempatkan Indonesia pada peringkat bawah 10 besar , dari 65 negara peserta PISA.

Kemunduran karakter generasi muda yang berdampak besar pada kualitas pendidikan sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bukan hanya mengarah pada kemerosatan secara akademis, tetapi juga spritual. Problem karakter ini menurut hemat penulis bukan hanya terjadi di kota-kota besar.

Hal ini disebabkan perilaku yang mengarah pada karakter ini seperti gunung es, yang hanya muncul permukaannya saja. Di atas kelihatan kecil dan runcing, namun di dalam tanah masih tersimpan sesuatu problem dan fakta yang sangat besar.

Apalagi walaupun dalam konteks ini perilaku-perilaku yang non-edukatif, yang mencirikan mundurnya karakter tersebut. Secara kolektif sangat tidak diharapkan dalam bentuk apapun terjadi di tanah Papuan Barat, khususnya di Kabupaten dan Kota Sorong.

Menanggapi berbagai macam persoalan pelik yang sudah kronis ini, maka timbulah berbagai macam pertanyaan yakni ada apa dengan generasi muda kita, ada apa dalam lingkungan keluarga generasi muda kita, ada apa dengan lingkungan masyarakat di sekeliling generasi muda kita, ada apa dengan lembaga pendidikan kita, ada apa dengan sitem pendidikan kita Pertanyaan-pertanyaan yang sangat urgen dan esensial ini merupakan penentu terhadap pembentukan karakter generasi muda kita.

Dengan demikian, untuk mengurai benang kusut pendidikan karakter baik dalam skala nasional, maupun dalam skala lokal: Propinsi Papua Barat, khususnya Kota dan Kabupaten Sorong, maka harus menguatkan pendidikan karakter dalam istilah penulis yakni ruang lingkup segi tiga rotasi yakni pendidikan karakter dalam keluarga, pendidikan karakter dalam lingkungan masyarakat, dan pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah.

  • Bagikan