oleh

Hj. Meillya, Mantan Karyawan Telekomunikasi Sukses Kembangkan Tursina Travel

Sebelum terjun mengelola travel umrah dan haji, Meillya bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Indosat sekitar 15 tahun. Karirnya dirintis dari network quality yang menangani kualitas signal selama 8 tahun kemudian ke bagian sales corporate.

Wanita kelahiran Jakarta, 9 Mei 1979 ini juga bertugas menjalin mitra atau rekanan perusahaan yang bekerjasama dengan Indosat. Karir terakhirnya di Indosat saat ditempatkan di National Commercial Operations (NCO) selama 4 tahun yang menangani semua program marketing Indosat di seluruh Indonesia.

“Sebelumnya saya sempat bekerja di Astra Motor, pernah juga di konsultan public relation karena background saya komunikasi,” ujar lulusan FISIP UI tahun 1997 jurusan Komunikasi Massa.

Di tahun 2014, Meillya melihat peluang besar industri umrah haji yang saat itu berkembang pesat. Setelah ia pensiun dari Indosat di tahun 2014, kebetulan suami memintanya lebih konsentrasi mengelola travel Tur Silaturahmi Nabi atau dikenal dengan Tursina Travel yang sudah dirintis suaminya di tahun 2007. Saat itu Meillya kerap melobi teman-temannya untuk berangkat umrah dan haji menggunakan Tursina Travel.

“Saya mulai sosialisasi ke mereka kalau saya juga mengelola Tursina Travel. Awalnya kita membangun mindset, memang ada tantangan-tantangan yang berbeda dibandingkan saat saya masih bekerja sebagai profesional. Kita ibarat seperti naik roller coaster kalau mengelola usaha sendiri, berbeda dengan sebagai pegawai kita mengikuti aturan yang sudah ada dan mendapatkan gaji rutin bulanan. Kalau usaha sendiri kita menghadapi persaingan dan kita harus bisa maintain karyawan-karyawan di kantor,” ungkapnya.

Dalam membesarkan Tursina Travel, Meillya merasa tertantang untuk lebih mengembangkan lagi Tursina di beberapa daerah dengan membuka banyak cabang. “Alhamdulillah sekarang cabang yang efektif ada delapan. Di Malang, Surabaya, Solo, Semarang, Batam dan sekarang kita buka di Makassar, Batam dan Medan,” tandasnya.

Banyak tantangan baru yang dihadapi Meiliya di dunia travel umrah dan haji, apalagi ini dunia baru yang ia pegang sehingga ia merasa masih harus banyak belajar dan terus belajar untuk memegang amanah memberangkatkan tamu-tamu Allah. Supaya Tursina Travel terus dipercaya oleh jamaah terutama dalam hal pelayanan kepada mereka.

Meillya juga memberikan pelayanan wisata halal di Tursina Travel yang sudah berjalan selama 4 tahun ini, dan pengelolaan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) untuk pameran-pameran di luar negeri. Ia berusaha memberikan semaksimal pelayanan bagi jamaah, dan jika ada jamaah yang komplain dengan kualitas servis maka akan ditingkatkan lagi kualitasnya supaya lebih baik. Dalam membangun bisnis ini ia juga lebih fokus ke klien-klien dan komunitas bisnisnya, karena ia banyak berkecimpung di komunitas. Sekarang karena dunia sosial media makin berkembang maka ia juga menyebarkan informasi dan promo-promo Tursina Travel melalui sosial media. Namun promosi lebih banyak lewat mulut ke mulut dari jamaah yang pernah berangkat dengan Tursina Travel.

“Alhamdulillah kita pernah mendapat penghargaan dari televisi swasta Trans7 di tahun 2016, dari Movenpick Hotel karena bookingan kita terbanyak di tahun 2017,” ucapnya.

 

Dalam membangun Tursina Travel untuk lebih maju, Meillya memiliki kiat sukses yaitu pertama selalu bekerjasama dan yakin apa yang dilakukan karena Allah, kedua terus menjalin hubungan yang baik dengan semua kalangan atau good relationship dengan semua orang. Ketiga adalah karena Allah, bukan semata-mata komersil di bisnis saja.

 

“Saya lebih senang bisa memberikan nilai tambah bagi orang, ketika jamaah berangkat umrah lalu meningkat dari sisi ibadah dan keimanan setelah berangkat umrah dengan Tursina Travel,” ujarnya.

 

Pendekatan ke jamaah Tursina Travel dilakukan Meillya secara lebih personal dengan pendampingan, dan untuk wisata halal juga diberikan informasi sejarah dan peradaban Negara tersebut. Semua kebutuhan jamaah bisa terakomodir terutama jamaah-jamaah yang sudah lansia. Jamaah Tursina selain berada di Jabodetabek, juga ada di Jawa, Sumatera, Kalimantan Sumatera dan lainnya tetapi paling banyak di Pulau Jawa.

 

“Alhamdulillah grafik meningkat. Dalam waktu empat bulan ini sudah ada 1.600 jamaah yang kita berangkatkan ke Tanah Suci. Ke depan, saya ingin memiliki perusahaan Islam yang bisa go internasional, dalam arti bisa sejajar dengan travel-travel besar seperti Panorama, Dwidaya, dan lainnya. Kita tetap memprioritaskan syiar Islam tapi dengan kualitas pelayanan seperti perusahaan besar. Saat ini kita juga mau menggarap kalangan korporat dan kementerian-kementerian,” terangnya.

News Feed