oleh

Subhanalloh.., Jemaah Rajin ke Masjid Mati Syahid di Tanah Suci

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”

Tidak ada seorangpun tahu kapan dimana dia akan mati. Begitupula yang dialami salah satu rombongan Jemaah haji PT An-Naba International. Namanya Haji Abdullah Lakkase. Beliau meninggal pada tanggal 10 Zul Hijjah. Meninggal sebagai Syahid karena sedang menunaikan rangkaian ibadah haji.

Meninggalnya Haji Abdullah Lakkase menyimpan kisah haru dan bisa jadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup. Haji Abdullah Lakkase meninggal dalam perjalanan dari Muzdalifah ke Mekkah setelah wukuf di Arafah.

“Kami sangat berduka atas kepergian ayahanda kami, tapi kami juga lega karena beliau meninggal dalam keadaan suci bathin dari dosa, kami yakin dengan hal itu sebagaimana yakinnya kami atas janji-janji Allah Subhanahu Wataala melalui sabda Nabi Muhammad Sallalahu alaihi wasallam ‘bahwa orang yang melaksanakan haji mabrur dosanya akan dihapus dan dibersihkan sebagai mana anak yang baru lahir,” kata Direktur Utama PT An-Naba International, H Andi Aminuddin.

Sebagai Pimpinann PT An-Naba International, H Andi berdoa agar semua keluarga menerima kepergian almarhum dengan ikhlas dan sabar. Keluarga besar jamaah haji PT An-Naba International 2018 dengan segenap staf dan direksi sangat berduka atas meninggalnya almarhum.

Pengalaman menangani jemaah meninggal di kota suci menggiring PT An-Naba International untuk membuat penelitian skala kecil. Tahun ini Allah telah menakdirkan salah satu dari rombongan jemaah An-Naba International meninggal dunia di Mekkah Saudi Arabia.

“Suatu kasus yang sama terjadi 5 tahun lalu dimana seorang jemaah jatuh sakit saat kami baru saja tiba di Mina untuk tarwiyah dan terpaksa harus di rujuk ke salah satu RS di Mina dan kemudian di safari wukupkan oleh petugas medis Saudi Arabia. Bapak satu ini unik karena kami selalu berdoa agar beliau dapat sembuh dan kembali bersama kami, paling tidak 3 kali kami datang ke RS untuk menjemput beliau karena sudah dianggap sembuh dan boleh dibawa pulang, namun karena prosedur rumah sakit Saudi mengharuskan kami menunggu kepastian sanggup, tidaknya seorang pasien bertahan minimal 3 jam tanpa alat bantu oksigen, .baru diperkenankan untuk dibawa pulang. Ternyata si pasien dinyatakan tidak bisa dibawa pulang,” jelas H Andi.

Menurut Andi, padahal petugas kami mendapat panggilan untuk menjemput pasien setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke tanah air bersama rombongan. Petugas kesehatan An-Naba beserta beberapa jemaah yang masih keluarga beliau menjemput di Rumah Sakit. Sampai di Rumah Sakit semua bersyukur dan gembiranya karena kami sempat ngobrol dan bercanda tawa tawa dengan pasien . Tapi beberapa jam kemudian, pasien dinyatakan belum bisa dibawa karena hanya bertahan kurang dari 3 jam tampa oksigen, sedangkan untuk ke tanah air butuh minimal 9 jam penerbangan non stop.

Akhirnya kami pun harus balik tanah air tanpa membawa pulang satu Jemaah yang masih harus dirawat dengan pantauan dari salah satu patugas medis An-Naba yaitu dr Surya yang memang beliau punya izin tinggal di Saudi. Satu minggu kemudian kami dapat kabar gembira bahwa pasien dinyatakan sembuh dan bisa dibawa pulang. PT An-Naba menugaskan satu tenaga musim An-Naba untuk mengawal jemaah haji tadi dia adalah salah satu adik mahasiswa di universitas di Madinah. Tiket untuk pasien dan pendamping akhirnya disiapkan untuk kepulangan jemaah tadi. Namun 16 jam sebelum terbang beliau tiba-tiba batuk dan meninggal .

“Kasus ini membuat saya penasaran lalu kami mengadakan penelitian sekala kecil dari semua mantan jemaah annaba yang ditakdirkan meninggal di Mekkah ataupun di Medinah. Kami mulai tanya ustadz yang membimbing beliau bertanya ke sahabatnya terahir kami tanyakan istrinya tentang amalan beliau ,dimana dikatakan dia hampir 15 tahun mengurusi masjid, membersihkan, azan, qamat dan imam yang semua itu dilakukan sering hanya seorang diri jika waktu-waktu subuh dan hujan. Terhadap semua jemaah yang meninggal kami tanyakan yang sama kepada orang-orang sekitar dan sahabat-sahabat mereka. Yang ternyata semuanya mempunyai amalan kebaikan yang sama yaitu rajin beribadah di Masjid, berinfak tenaga dan harta untuk mesjid dan kami yakin mereka semua pantas untuk mendapatkan takdir baik dan khusnul sesuai amalannya yaitu mati syahid dalam perjalanan haji untuk mendapatkan Ridho dari Allah SWT,” tutur Pimpinan PT An-Naba International ini.

 

News Feed