oleh

Pentingnya Sosialisasi Mengenal Ciri Keaslian Uang Rupiah

Aktivis cantik dari Lembaga Pemberdayaan Kesejahteraan Pancakarya Indonesia (LPKPI), Adelina SE mengajak seluruh penjual HIK (Hidangan Istimewa Kampung) se-Kodya Solo bersama stakeholders terkait lainnya seperti koordinator penjual HIK, pemasok makanan, pelanggan yang terdiri dari mahasiswa, tukang becak, tukang ojek, dan lain-lain untuk lebih mengenal Ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR). Pengenalan tersebut dilakukan dalam acara Sarasehan Penjual HIK dan Sosialisasi CIKUR yang digelar di Musium Pers Solo, tepatnya di Jl Gajah Mada Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (15/7/2018).

Ketua LPKPI Adelina, SE

Acara hasil kolaborasi Bank Indonesia, Kantor Kominfo, dan LPKPI ini dihadiri oleh ratusan peserta yang sebagian besar merupakan perwakilan dari masyarakat ekonomi pinggiran.

Dalam kesempatan itu, Adelina SE yang merupakan Ketua LPKPI dan salah satu pemilik Adeline Travel ini menjelaskan bahwa sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah (CIKUR) ini memang masih dibutuhkan oleh masyarakat. Terutama untuk menghindari dan mengantisipasi peredaran uang palsu yang biasanya marak saat saat menjelang pemilu. Ia memuji peran BI yang sampai saat ini masih mempunyai komitmen yang tinggi untuk memberikan edukasi publik ke berbagai tempat dan kalangan masyarakat.

“Untuk membantu mengimplementasikan kebijakan BI ini, mungkin saya termasuk yang sering melakukan blusukan ke pasar dengan membawa uang pecahan-pecahan kecil edisi baru itu untuk ditukarkan dan dibagikan, sekalian melakukan edukasi ke masyarakat,” terangnya kepada wartawan.

Peserta Sosialisasi Ciri Keaslian Uang Rupiah

Menurutnya, dengan kontinyuitas sosialisasi ini ke masyarakat membuat mereka jadi tahu caranya mengenali uang itu asli atau palsu. “Paling tidak kalau ada uang palsu mereka (masyarakat) harus bagaimana. Nah, dengan sosialisasi seperti ini masyarakat akan terinformasi sehingga mereka tahu harus bagaimana dan ke mana,” imbuhnya.

Sementara itu, Dwi Mukti Wibowo, figur yang selama ini lebih dikenal dengan pemerhati masalah masyarakat ekonomi pinggiran mengatakan, penjual HIK dan berbagai pihak terkait dengannya adalah pelaku ekonomi pinggiran yang harus benar-benar dibantu. Mereka sebagai ujung tombak dan pondasi perekonomian di tingkat bawah yang harus dilindungi dari kerugian materi karena dampak uang palsu.

“Kami selalu berpesan kepada penjual HIK sebaiknya berhati-hati jika menerima uang dengan nominal besar dari pembeli yang baru dikenalnya. Kalau perlu minta uang kecil atau uang pas saja, biar terhindar dari uang palsu,” tutur Adelina dengan ramah.

“Kalau toh nanti mereka menemukan uang palsu maka bisa segera dilaporkan ke pihak kepolisian. Itung-itung membantu pihak berwajib yang terus menerus memberantas peredaran uang palsu,” pungkas perempuan cantik yang aktif kegiatan sosial ini.

News Feed