oleh

Sikap Komunitas Palestina di Indonesia Atas Kunjungan Dewan Pertimbangan Presiden ke Israel

Sehubungan dengan kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bapak Yahya Cholil Staquf ke Israel beberapa hari yang lalu atas undangan dari The Israel Council on Foreign Relations (ICFR), Komunitas Palestina di Indonesia menyatakan posisinya sebagai berikut:

• Komunitas Palestina di Indonesia mengutuk dan menyesalkan kunjungan ini dan melihatnya sebagai kekecewaan besar bagi rakyat Palestina, terutama dimana Bapak Staquf merupakan sosok agama dan pejabat Indonesia walaupun beliau menyatakan kepergiannya secara pribadi dalam pidatonya di depan American Jewish Committee (AJC) di Yerusalem. Langkah ini diambil pada waktu yang tidak sesuai dimana Israel melanjutkan kebijakanya yang rasis dan agresif terhadap rakyat Palestina, di mana ratusan pengunjuk rasa damai dibunuh dan ribuan terluka oleh tentera Israel sejak Maret yang lalu dalam rangka partisipasi di “Great March of Return” di Gaza.
• Kami anggap tuduhan yang diajukan oleh Bapak Staquf bahwa kunjungannya untuk mendukung rakyat Palestina sebagai penyesatan dan pemanipulasian kata￾kata, karena dukungan untuk rakyat Palestina harus melalui pintu gerbang kepemimpinan Palestina di Ramallah bukan melalui Israel yang menyeksa dan berlaku kejam kepada rakyat Palestina dan menduduki tanahnya.

• Kami melihat waktu kunjungan ini dan di tempatnya (Yerusalem) merupakan dukungan kepada posisi Israel dan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Langkah ini merupakan kelalaian terhadap hak rakyat Palestina dan mendukung posisi kebijakan penjajah yang menargetkan tempat-tempat suci buat umat Muslim dan Kristen di Yerusalem. Selain itu, langkah ini bertentangan dengan resolusi Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017, yang menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan mayoritas 128 negara termasuk Indonesia. Kepemimpinan Palestina mengumumkan bahwa langkah itu telah mengakhiri proses perdamaian karena tidak adanya sponsor dan mediator yang netral di mana AS berpihak dengan Israel.

Kami melihat Pertemuan Pak Staquf dengan Wakil Duta Besar AS untuk Israel, David Friedman, yang merupakan sosok Zionis dan pendukung besar untuk pembangunan pemukiman Ilegal Israel di tanah Palestina. ia juga mengancam untuk mengganti Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada 29 Mei yang lalu. Oleh karena itu, kami anggap pertemuan ini sebagai dukungan terhadap posisi Israel dan dukungan jelas untuk konspirasi yang menargetkan rakyat dan kepemimpinan Palestina.

• Bicaranya Bapak Staquf tentang warisanya dan visi almarhum Presiden Abdurrahman Wahid untuk mendukung proses perdamaian untuk membenarkan kunjungannya tidak dapat diterima, karena Presiden Abdul Rahman Wahid mencoba untuk memainkan peran dalam proses perdamaian selama masanya 1999-2001 atas persetujuan kepemimpinan Palestina pada waktu itu di mana masih ada payung international untuk proses perdamaian, sedangkan situasi saat ini berbeda di mana AS berpihak dengan Israel, dan Israel masih melanjutkan kebijakan pendudukan yang menargetkan tempat-tempat suci dan kepemimpinan dan bangsa Palestina. Oleh karena itu, kami melihat kunjungan ini sebagai dukungan kepada penjajahan Israel.

• Kami percaya bahwa tidak ada alasan atau logika yang menjastifikasi langkahnya Bapak Staquf khususnya setelah keputusan otoritas Israel pada 29 Mei yang lal untuk mencegah saudara-saudara Kristen dan Muslim Indonesia untuk mengunjungi tempat suci di Yerusalem dan wilayah Palestina. Hal ini merupakan bertentangan secara eksplisit pada hak asasi manusia yang paling dasar untuk menjamin hak untuk beribadah dan mengunjungi tempat suci untuk semua Pengikut agama, terutama karena tempat-tempat ini terletak di Yerusalem Timur, yang menurut resolusi internasional adalah ibukota negara Palestina yang masih dijajah “occupied territory” sesuai dengan hukum internasional.

• Langkah ini merupakan pelanggaran yang jelas terhadap keputusan-keputusan Organisasi Kerjasama Islam OKI, yang mengutuk kejahatan Israel terhadap tempat suci di Yerusalem dan rakyat Palestina selama dua konferensi terakhir di Istanbul pada bulan Desember 2017 dan di bulan Mei 2018.

• Baru-baru ini kami menyaksikan eskalasinya kampanye boikot internasional terhadap negara penjajahan “Israel” untuk mengakhiri penindasan yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina. Menurut hukum internasional apa yang dilakukan oleh Israel saat ini merupakan terorisme negara “State Terrorism”. Israel juga dianggap sebagai negara apartheid sesuai dengan laporan yang dikeluarkan oleh UN Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA) yang diterbitkan pada Maret 2017. Hal ini mengakibatkan pembatalan pertandingan persahabatan antara tim sepak bola Argentina dan tim Israel yang direncanakan di Yerusalem. Selain itu, dan pembatalan sejumlah konser penyanyi Eropa di Israel termasuk Shakira, dan panggilan Walikota Dublin Micheal Mac Donncha untuk Boikot festival Eurovision 2019 di Israel, dan boikot akademik di mana para akademis Inggris serta AS memboikot universitas-universitas Israel,dll. Demikian, menurut kami kunjungan pak Staquf memberi legitimasi terhadap negara penjajahan dan sebagai upaya untuk mengangkat Israel dari isolasi internasional.
• Rakyat Palestina mengeksiprisikan penolakannya terhadap kunjungan ini melalui pernyataan Kemlu Palestina, partai-partai Palestina dan Kompanye Palestina untuk memboikot Israel yang menganggap kunjungan ini sebagai dukungan kepada pendudukan dan kami benar-benar merasa terluka dengan kunjungan ini.

• Sebagai penutup, Komunitas Palestina di Indonesia dan rakyat Palestina pada umumnya menghargai dukungan Republik Indonesia, baik di tingkat resmi maupun masyarakat terhadap perjuangan bangsa kami untuk mendirikan negara yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Kami melihat dengan puas sikap penolakan yang dari bangsa Indonesia secara keseluruhan untu kunjungan Bapak Staquf, terutama melalui beberapa organisasi dan badan-badan keagamaan terbesar di Indonesia yaitu MUI dan Muhammadiyah bersama dengan beberapa partai dan badan masyarakat yang lain.

News Feed