oleh

Eddy Ganefo: Kehadiran Kadin di Aceh sepatutnya Jadi Solusi Persoalan Ekonomi Daerah

JAKARTA, SiaranIndonesia.com – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh menggelar musyawarah provinsi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (7/2/2018). Kegiatan yang dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Aceh, Abdul Kadir yang mewakili Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, turut dihadiri Ketua Umum KADIN Indonesia Eddy Ganefo dan semua pengurus KADIN kabupaten/kota.

Ketua Umum Kadin Indonesia Eddy Ganefo menuturkan, kehadiran Kadin di Aceh sepatutnya menjadi solusi permasalahan ekonomi daerah. Para pengusaha yang tergabung di dalam Kadin diharapkan terus menyerap tenaga kerja di Aceh. Dengan demikian berdampak terhadap berkurangnya angka pengangguran.

“Aceh adalah daerah istimewa. Ekonominya harus istimewa dan menjadi contoh bagi daerah lain. Pengusaha-pengusaha bisa ambil bagian dalam hal ini,” tuturnya.

Ia mengajak para pemuda di Aceh mulai berwirausaha sejak dini. Apalagi lapangan pekerjaan di pemerintahan sangat sempit. Sementara itu, potensi perkembangan perekonomian di Aceh cukup besar.

“Di saat orang lain malas menjadi pengusaha, itulah peluang terbesar anda,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Caretaker Kadin Aceh Muzakir Manaf. Menurutnya, perkembangan perekonomian Aceh harus dimulai dari dunia usaha. Kadin Aceh seharusnya berada di garis depan memperbaiki ekonomi Aceh. Semua pihak perlu bersinergi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Bukan saatnya lagi kita berpangku tangan. Mari bangkit bersama,” tutur lelaki yang akrab disapa Mualem itu.

Agar perekonomian Aceh membaik, ia sangat mendukung agar pengusaha Aceh membelanjakan uangnya serta mendirikan kantornya di Aceh. Karenanya, perputaran uang di Aceh mengalami peningkatan. Ketika kantor pengusaha berada di Aceh, maka pajak usaha tidak mengalir keluar.

Di samping itu, ia menghimbau kepada para pengusaha Aceh membeli produk asal Aceh, meskipun bila sedikit mahal. Hal ini akan meningkatkan semangat pengusaha Aceh memperbaiki kualitas produknya. Harganya pun bisa dibuat lebih terjangkau.

“Kalau bukan kita yang beli, siapa lagi,” lanjutnya.

Ia menuturkan, sudah saatnya Aceh bangkit dari keterpurukan dengan mendirikan industri-industri, misalnya industri pengolahan bahan mentah pertanian. Kemudian perlu diperhatikan juga pasar dan kepastian harga. Harapannya adalah berkurangnya ketergantungan pengolahan hasil mentah pertanian kepada daerah lain.

Ketua Panitia Jamaluddin mengatakan, pelaksanaan musyawarah bertujuan melakukan evaluasi Kebijakan serta hambatan pengusaha, terutama percepatan pertumbuhan ekonominya. Musyawarah ini fokus terhadap pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang akan dibangun, termasuk usaha menengah dan besar.

“Kadin ke depan juga akan menanamkan sikap rasa nasionalisme kepada pengusaha-pengusaha dalam negeri, khususnya Aceh,” ujarnya, Rabu (7/2) di Banda Aceh.

Ia menambahkan, rasa nasionalisme pengusaha akan menggerakkan mereka untuk tidak membawa uang keluar negeri. Otomatis, semakin banyaknya peredaran uang di dalam negeri menguatkan mata uang rupiah. Sehingga, kestabilan moneter terus terjaga.

Dalam musyawarah tersebut juga akan dilaksanakan pemilihan ketua Kadin. Ia meminta kepada para pemilih supaya mempertimbangkan sosok yang cocok menduduki jabatan ketua Kadin Aceh. Pemilihan ketua seyogyanya dilandasi kepada visi dan misi calon ketua Kadin. Ia menegaskan, Kadin bukanlah lembaga yang menggertak pemerintah, melainkan bersinergi dengannya.

“Kita patut bergembira karena pemilihan ketua Kadin kali ini merupakan wujud pilar-pilar kebangsaan,” ungkapnya.

News Feed