oleh

ISTICLAL: Toleransi Dipahami, jika Mengerti Falsafah Diciptakannya Manusia

Islamic of Social and Politic Learning Club atau yang biasa disebut dengan ISTICLAL menggelar diskusi antar umat beragama dengan mengangkat tema, “Meningkakan Kebersamaan Kerukunan, dan Kedamaian dalam Mewujudkan Toleransi Beragama” yang dihadiri oleh ratusan peserta. Kegiatan ini dilaksanakan di Universitas Udayana, Bali, Sabtu, (27/01/2018).

Hadir sebagai pembicara Ketua MUI Provinsi Bali  H.M. Taufik Ashadi, S.Ag., Kapolda Bali AKBP Saiful Saam, S.H., S.IK., M.H., dan peneasehat FKUB I Gede Nurjaya. Dalam kesempatan tersebut, Taufik Ashadi menjelaskan dalam mewujudkan toleransi agama, manusia harus memahami falsafah diciptakannya manusia. Manusia sebagai makhluk sosial, dituntut untuk memegang prinsip bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan orang lain.

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan, tanpa melihat ras, suku, golongan maupun agama. Sejatinya dalam mewujudkan kehidupan antar umat beragama itu sangat mudah, cukup dengan menjaga lisan dan perbuatan,” tuturnya saat memberikan pemaparan materi kerukunan umat beragama.

Ditegaskan Gede Nurjaya, kehidupan antar umat beragama di Bali dengan konsep menyamabraya, yang berarti bahwa kebersamaan itu dapat terwjud melaui komunikasi yang baik demi terwujudnya hubungan yang harmonis. Dijelaskan, komunikasi yang baik akan mencipatkan hubungan yang baik dan hubungan yang baik akan menciptaka kedamaian dalam hati dan nurani manusia.

“Isu-isu sara yang berkembang di Indonesia ini bermula pada kurangnya komunikasi antar yang bersangkutan. Yang selanjutnya hal tersebut mengakibatkan sebuah konflik ditambah dengan pemberitaan-pemberitaan hoax semakin jadilah. Coba kita komunikasi yang baik, bermusyawarah dan dikusi, tidak akan ada konflik”, ujarnya.

Lebih lanjut dipaparkan AKBP Saiful Salam, bahwa sikap toleransi beragama berkaitan dengan aspek hukum. Menurutnya taat hukum merupakan kunci terwujudnya kemarhonisan sosial. Dikatakan juga, kerusuhan atau kasus-kasus yang berisu sara tidak mungkin terjadi bila semua masyarakat Indonesia patuh hukum.

“Kita sudah mempunyai Pancasila dan UUD 1945 seagai ideologi bangsa Indonesia. Hal itu yang harus dipegang teguh. Terkait degan pebedaan, komunikasikanlah, bermusyawarahlah untuk mencapai mufakat. Indonesia ini tidak akan indah bila hanya ada satu warna, jadikanlah perbedaan ini sebagai keragaman dalam hidup berdampingan. Terkait dengan ideologi-ideologi yang banyak bermuculan seperti HTI maupun yang lainnya kita kembalikan pada Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum bangsa Indonesia,” jelas Saiful Salam.

Peserta terlihat antusias mengikuti diskusi. Kegiatan ini dihadiri oleh siswa-siswi SMA di Denpasar, mahasiswa STIKOM Bali, STAI Denpasar, Universitas Mahasaraswati, Undiknas, mahasiswa Udayana, serta perwakilan organisasi intra dan ekstra kampus seperti PHDI, HMI, KMHDI, BEM, Muhammadiyah, IPNU, IPPNU dan GP. Ansor.

News Feed