oleh

Ngasiman Djoyonegoro Apresiasi Diplomasi Sukhoi Panglima TNI

Jakarta- Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS) Ngasiman Djoyonegoro mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan menggelar beragam diplomasi baru-baru ini. Setelah booming dengan “diplomasi kopi”, kini Panglima TNI menggelar apa yang disebut “diplomasi Sukhoi”.

“Beragam diplomasi yang digelar Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto baru-baru ini patut diapresiasi. Diplomasi ini menunjukkan bahwa Panglima TNI punya komitmen besar untuk menjaga dan merawat soliditas dan solidaritas, baik di internal TNI ataupun dengan pihak Polri,” kata Ngasiman Djoyonegoro, Kamis (21/12/2017).

Istilah diplomasi Sukhoi muncul setelah Marsekal Hadi mengajak Kapolri (pol) Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Ade Supandi menaiki pesawat Sukhoi SU-30 di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (20/12) pagi. Keempat Pesawat Sukhoi didatangakan secara khusus dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk ditumpangi oleh keempat perwira bintang empat tersebut.

Menurut Simon, begitu ia akrab disapa, diplomasi Panglima TNI penting dilakukan guna mensukseskan agenda-agenda strategis. Salah satu agenda strategis itu misalnya pesta demokrasi yang digelar di tahun 2018.

“Tahun 2018 ini akan digelar pilkada serentak. Sebanyak 171 daerah menggelar pilkada. Sementara itu tahun 2019 ada dua hajatan penting yakni Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Sinergi antara TNI dan Polri di sini mutlak diperlukan demi suksesnya hajatan politik,” tambah Kandidat Doktor Universitas Brawijaya Malang itu.

Selain itu, dalam pandangan Simon, gencarnya diplomasi yang dilakukan TNI juga penting guna memantapkan barisan dalam rangka menghadapi segala ancaman yang datang. “Di era digital sekarang ini, perang bukan hanya dalam bentuk fisik, namun perang bisa dalam bentuk lain, seperti perang siber,” terang Simon.

Perang siber (cyber war) adalah sebuah perang dunia maya yang tujuannya untuk melemahkan keamanan negara melalui akses terbuka (baik diperoleh secara legal atau ilegal) data-data negara dan warganya melalui jejaring information and communication technology (ICT). “Sekarang ini adu domba dan fitnah bisa disebarkan melaui jejaring sosial. Kondisi ini tentu bisa menjadi ancaman jika tidak ditangkal sedini mungkin,” ujarnya.

Karena itu, Simon menyambut baik upaya Panglima TNI yang secara responsif melakukan konsolidasi dan diplomasi untuk memperkuat soliditas, baik terhadap semua Matra di tubuh TNI ataupun terhadap lembaga-lembaga negara lainnya, seperti halnya dengan Polri baru-baru ini.

“Saya bangga dengan langkah responsip Panglima TNI. Saya sangat yakin melalui upaya diplomasi yang dilakukan saat ini, upaya memperkuat soliditas demi mensukseskan aganda-agenda strategis pemerintah akan lebih mudah terealisasi,” ucap Simon yang juga penulis buku “Intelijen di Era Digital” itu.

News Feed