oleh

Merawat Spirit Kejuangan Sumpah Pemuda

Oleh: Firman Firdhousi*

Sekian lamanya kita hidup berbangsa dan bernegara berfalsafahkan ‘Bhineka Tunggal Ika’. Ini merupakan pengakuan terhadap kenyataan sosial antropologis penduduk negeri ini yang multi-etnik, multi-budaya dan multi-agama. Penegasan kesadaran kebangsaan inilah yang menghantarkan kita ke arah persatuan Indonesia dalam sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat.

Berkaca pada sejarah bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah etnonasionalisme yang didasari pada persamaan yang bersifat nativistik (kesukuan). Kesadaran nasionalisme Indonesia adalah titik temu nilai-nilai universalitas yang hidup dalam derap kehidupan sosial kerakyatan kita.

Betapa panjang perdebatan para founding fathers dalam menggali nilai-nilai sosial-kultural di Nusantara guna merancang paradigma ideologi dasar negara-bangsa kita. Semua itu merupakan hasil dari proses inkubasi intelektualitas yang dilakukan oleh para pengagas Republik untuk mengkonstruksi cetak biru nasionalisme Indonesia.

Kesadaran kebangsaan yang diikrarkan para tokoh pemuda melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah narasi penegasan indentitas nasional dari modus eksistensi sebagai bangsa yang satu, bertanah air satu, berbahasa satu Indonesia. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai dialektika kalam kekhalifahan yang dilakoni para tokoh pemuda saat itu merupakan kristalisasi tata nilai yang tumbuh dan hidup dari spirit multikultural kenusantaraan kita, yang dalam pandangannya, wajah dunia baru negara-bangsa bernama Indonesia adalah suatu gagasan tentang negara yang didirikan untuk seluruh komunitas bangsa tanpa kecuali dalam konvergensi satu kesatuan politik tentang general welfare (kesejahteraan bersama) dalam hidup bersama.

Ketika lahirnya Indonesia sebagai negara bangsa masih hanya sebatas imajinasi penduduk tanah jajahan Hindia-Belanda kala itu, para pemuda justru berkeyakinan kuat dan lantang menyerukan bahwa cita-cita membentuk Nusantara bernama Indonesia adalah sesuatu yang sangat mungkin. Para tokoh pemuda yang semula tergabung dalam kelompok-kelompok primordial semacam Jong Java, Jong Islam, Jong Ambon, Jong Selebes, Jong Sumatera dan Jong-jong lainnya pada satu titik bersepakat untuk meleburkan diri ke dalam barisan pemuda berbaju Indonesia. Inilah peristiwa kultural dan politis yang monumental atas visi kemajemukan bangsa Indonesia.

Maka dari itu, Indonesia bukanlah sebuah negara bangsa yang jatuh dari langit. Sebaliknya, apa yang disebut Indonesia adalah sebuah proses yang menjadi secara terus-menerus. Bangsa Indonesia merupakan hasil ikhtiyar lintas tokoh pemuda dalam serangkaian sejarah panjang pembentukan identitas jati diri kebangsaan, dari yang semula bersifat imajinatif, hingga kemudian berpuncak secara yuridis formal berwujud Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 sebagai formalisasi atas apresiasi kultural dan politis yang terikrar melalui sumpah kebangsaan, yaitu Sumpah Pemuda.

Spirit Sumpah Pemuda

Peringatan momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan prolog narasi sentral perjuangan kaum muda lintas sektoral, lintas agama, suku dan ras dalam proses pembentukan bangsa Indonesia yang merdeka; merdeka dari ketidakadilan dan merdeka dari belenggu penjajahan.

Sebelum bayi bernama Indonesia ini lahir, kaum muda tampil ke depan dan maju bertempur tanpa ada maksud kecuali kemerdekaan yang seutuhnya. Hanya spirit nasionalisme dan patriotisme yang menjadi modal dasar kaum muda terjun ke medan peperangan di kala itu untuk mewujudkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa Indonesia dengan pertaruhan jiwa dan harga serta harta benda.

Banyak hikmah yang dapat ditangkap sebagai wahana refleksi dari momentum Hari Sumpah Pemuda ke-89 bagi para generasi muda atas kebulatan tekat perjuangan dan pengorbanan para pejuang pendahulu demi terwujudnya kejayaan masa depan bumi pertiwi ini.

Salah satu spirit Sumpah Pemuda yang sangat relevan untuk diaktualisasikan kembali dewasa ini adalah spirit saling berkurban demi merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui Sumpah Pemuda kita diteladankan untuk mampu mengorbankan berbagai hal seperti rasa ego, suku, agama, ras, bahasa dan wilayah masing-masing dengan menegasikan sikap keangkuhan, kepicikan dan kepongahan demi merawat masa depan tenun kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kini, kita sebagai bangsa telah mengalami berbagai deviasi dan bahkan penyimpangan yang akut dari spirit Sumpah Pemuda. Kita amat mudah marah, tersinggung dan melakukan konflik tanpa ada akar masalah yang mendasar. Kita amat mudah dipecah belah oleh kekuatan luar. Kita amat mudah dinina bobokan oleh berbagai hal yang bersifat materialistik. Kita juga amat mudah melupakan kontribusi orang lain. Kita amat mudah mengambil jalan pintas demi meraih keberhasilan individu maupun kelompok. Kita amat mudah menggadaikan kedaulatan bangsa kita demi mendapatkan keuntungan sesaat. Kita sangat bangga dengan produk-produk negara lain. Kita selalu merendahkan apa yang kita miliki. Dan sangat susah menghargai prestasi yang dicapai orang lain.

Kita masih sangat lemah dalam mengapresiasi ilmu pengetahuan, sehingga kita hanya menjadi konsumen ilmu. Kita selalu kalah dalam diplomasi dunia internasional, sehingga tenaga kerja kita mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. Kenapa hal ini terjadi? Karena kita melupakan spirit Sumpah Pemuda. Kita sering mengedepankan kepentingan personal. Kita sering mengedapankan perbedaan bukan persamaan. Kita selalu mengedepankan keberhasilan sendiri tanpa melibat peran orang lain dalam keberhasilan diri kita. Dan kita selalu cepat putus asa, pasrah dan reaktif atas kemajuan orang lain.

Ke depan, kita mestinya sadar bahwa kita adalah bangsa yang kuat, kokoh dan memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Kita memiliki bahasa persatuan, yakni Indonesia. Bahasa Indonesia mestinya kita jadikan bahasa keilmuan dan bahasa internasional, bukan sebaliknya, menjadikan bahasa lain sebagai kata serapan bahasa kita. Kita mestinya bangga, punya tanah air bernama Indonesia yang kaya akan berbagai hal, yang mestinya kita jaga, rawat dan kita kelola sendiri, bukan dijual murah ke bangsa lain, demi keuntungan sesaat. Kita mestinya sadar bahwa bangsa Indonesia merdeka bukanlah hadiah, melainkan melalui perjuangan dan pengorbanan. Kita bukan negara terjajah, kita bangsa berdikari. Tetapi kita selalu mengalah atas penindasan atau penjajahan bangsa lain. Dalam ekonomi, kita sering tunduk pada produk kebijakan asing. Dalam politik kita tunduk pada demokrasi liberal. Dalam budaya kita tunduk pada budaya sekuler. Dalam pendidikan kita tunduk pada paradigma ilmu dikotomis yang positivistik.

Dalam konteks merumuskan kembali tatanan Indonesia baru  yakni suatu bangsa yang mandiri, sejahtera dan berkeadaban, maka kita harus jadikan spirit sumpah pemuda sebagai sumber motivasi, nilai dan inspirasi untuk membangun kembali Indonesia baru. Kita singkirkan perbedaan furu’iyah (cabang) seperti perbedaan agama, suku, ras dan budaya menuju kesatuan kemanusiaan. Kita singkirkan ego sektoral, demi terwujudkan koordinasi dan sinerginitas dalam pembangunan. Sehingga pembangunan kita tidak lagi bersifat tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Kita satukan potensi dan energi guna mewujudkan kesejahteraan bersama. Kita padukan berbagai kekuatan dan modal sosial, agar kita mandiri. Dan kita wujudkan persatuan sebagai media untuk memperjuangkan hak dan martabat kita sebagai bangsa yang berdaulat. Dan kita jadikan tanah air kita sebagai tumpuan untuk meraih kejayaan masa depan yang sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Oleh karena itu, kaum muda hendaknya tampil sebagai kekuatan perekat, pemersatu dan penyangga dari kedaulatan rakyat dalam mewujudkan hak-haknya. Kaum muda tampil sebagai kekuatan kreatif dalam merealisasikan berbagai potensi dan modal sosial yang ada demi masa depan yang gemilang. Kaum muda hendaknya menjadi perisai dari kebangkrutan budaya, akibat serbuan paham materialisme dan hedonisme. Kaum muda hendaknya tampil membangun citra Indonesia yang prestatif, rukun, aman dan damai. Kaum muda sebagai agent of control tampil memegang panji-panji perubahan sosial, guna membantu saudara kita yang kurang beruntung karena sistem yang tidak berpihak. Kaum muda harus tampil sebagai pengingat akan kebobrokan moralitas politik dan kekuasaan. Kaum muda harus jadi kekuatan pengubah status quo demi kemajuan bersama di masa depan. Kaum muda tampil sebagai kekuatan kritis terhadap kebijakan yang tidak berkorelasi dengan kepentingan rakyat dan umat.

Itulah aktualisasi peran kepeloporan yang harus kita wujudkan di era Indonesia baru, yakni Indonesia yang mandiri, sejahtera dan berkeadaban. Spirit kolektivitas untuk persatuan, pengorbanan untuk kebersamaan dan kesatuan dalam perbedaan seperti diikrarkan kaum muda 88 tahun silam melalui deklarasi pemuda, yakni Sumpah Pemuda,  haruslah dapat kita aktualisasikan kembali dalam upaya membangun peradaban Indonesia yang par excellent. Tanpa itu, barangkali kita kehilangan makna profetik dari sumpah pemuda itu sendiri. Semoga.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal DPP GARDA NKRI

News Feed