oleh

Pemuda Asal Pati ini Sulap Sampah Jadi Miliaran Rupiah

Jakarta, Memilih untuk menjadi seorang pengusaha atau entrepreneur merupakan suatu prestasi tersendiri bagi setiap orang dan bahkan mimpi bagi sebagian orang. Karena selain bisa mengeksplorasi waktu, seorang entrepeuner juga mampu  memberi manfaat dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Hakim Muzayyan, dengan modal dasar kerja keras, tekad dan doa, ia pun mampu mewujudkan mimpi dan cita-citanya untuk meraih sukses.

Hal itupun yang  sudah dibuktikan oleh pria kelahiran Pati, Jawa Tengah ini,  meskipun usaha yang digelutinya ini adalah barang bekas, namun pria yang akrab disapa Hakim ini telah berhasil mengubah pandangan kurang enak masyarakat tentang sampah menjadi sebuah peluang bisnis yang memiliki nilai dan bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah.

“jika banyak orang membuang sampah, disini saya malah justru sibuk mencari sampah-sampah,” ujar Hakim sambil ketawa.

Meski demikian, usaha yang dirintis ayahnya  H. Hasan sejak tahun 2000 an ini juga tidak terlepas dari segala macam halangan dan rintangan. Jatuh bangun dalam membangun usaha daur ulang sampah pun  sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi H. Hasan.

Pada saat awal memulai usaha, H. Hasan sudah mempunyai 10-15 anak buah pemulung sampah, mereka ada yang membawa gerobak dan ada pula yang cuma membawa karung. Seiring berjalannya waktu,  usaha yang dirintisnya pun sudah mulai menunjukkan hasil positif, namun bersamaaan itu pula tiba-tiba tanah yang dikontraknya untuk gudang atau lapak sampah terkena gusuran karena sebab adanya perluasan pembangunan pasar tradisional, sehingga dengan terpaksa  dirinya harus pindah dan mencari alternatife tempat lain. Dan lagi anak buahnya tidak ada yang mau ikut. Karena lokasi jauh dan sepi.

Lebih lanjut pria ganteng lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menuturkan kalau ditempat barunya tersebut membuat usaha sampah ayahnya ini menjadi stuck selama 2 tahun dan tidak ada pergerakan sama sekali.   Karena tidak ingin terlalu lama melihat usahanya ini jalan ditempat, maka   ayahnya pun mencari alternatife tempat baru yang memungkinkan pemulung bisa masuk lagi di lapak miliknya.

“Alhamdulillah, sekitar tahun 2005  kami pun pindah kembali ke lokasi yang pertama kali ditempati, karena ternyata lokasi pasar tradisional tidak laku dan tidak ada pedagang pasar yang mau menempati lagi, mungkin ini sudah menjadi garis rezeki buat kami”. Jelas Hakim

Setelah kembali  menempati lapak lamanya, grafik usaha daur ulang sampah milik ayahnya ini pun terus meningkat.  Sehingga tahun 2008 ayahnya bisa membeli satu armada usaha berupa mobil carry pick up dengan cara kredit.

Usai lulus kuliah tahun 2007, Hakim pun sedikit sedikit ikut membantu usaha sampah milik ayahnya ini. Sehingga mulai paham jenis dan bahan dari sampah yang laku dan yang tidak. dari sinilah pergerakan usaha sampahnya semakin berkembang. Ditengah usahanya yang terus berkibar, cobaan pun kembali datang,    tahun 2010 sang adik tercinta atau putra kedua dari H.Hasan yang masih kuliah di Yogyakarta ini meninggal  karena kecelakaan.

“awal mulanya saya hanya sekedar membantu sekedarnya saja belum benar-benar total, karena setelah lulus , saya masih bekerja sebagai TA anggota DPR RI dan tahun 2009 sibuk juga sebagai tim sukses caleg, partai dan pilpres. Setelah cobaan tahun 2010 itulah semua berubah” katanya.

Setalah hampir 5 tahun lebih dirinya turut serta dalam membangun bisnis milik ayahnya ini, usanya pun semakin besar dan berkembang pesat. Bahkan perputaran sampah yang ia kelola bisa mencapai omset Rp 40 juta per hari atau kurang lebih Rp 1 miliar rupiah per bulannya.

Selain itu, ia juga mampu membeli gudang sendiri di jalan Kedondong Margonda Raya Depok. Kini usahanya pun sudah diperkuat dengan membentuk sebuah badan usaha berupa CV (commanditaire vennootschap) yang diberi nama CV Karya Indonesia Mandiri (KIM).

Kini usaha sampah yang dulunya hanya menjadi pengepul saja dari para pemulung, sekarang sudah menjadi suplier pabrik pengolahan barang bekas.  Dan untuk menunjang kebutuhan usahanya, CV KIM  ini pun mempunyai 5 armada atau mobil pengangkut sampah daur ulang, serta mempekerjakan sebanyak 12 karyawan.

Saat ditanya mengenai keuntungan, dia enggan untuk menyebutkan secara detail keuntungan bersihnya.“Ya kalau margin  sendiri se antara 5 sampai 10% tapi itu masih kotor, karena harus digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan dll, untuk bersihnya  itu rahasia perusahaan,” kilahnya.

Prospek Bisnis Sampah

Prospek usaha daur ulang sampah ini menurut Hakim sangatlah bagus karena sampah tidak akan pernah ada habisnya, selain itu dengan kita mendaur sampah, maka sudah ikut serta juga dalam mensukseskan program pemerintah. Bahkan program Badan lingkungan PBB.

“Misalnya dengan kita memakai kertas daur ulang maka secara tidak langsung kita mensukseskan program penghijauan kembali dari hutan alam sebagai jantung bumi. Karena kalau terus menerus bahan kertas dari kayu maka kayu akan habis dan butuh waktu hingga puluhan tahun lamanya untuk menunggu pohon itu tumbuh kembali,” ungkap  pria yang juga aktif di pengurus majlis dzikir Hubbul Wathon dan Jatman DKI ini.

Jenis Sampah yang diolah

Menurut Hakim, ada banyak jenis sampah atau barang bekas yang bisa diolah dan memiliki nilai jual, namun dirinya lebih memilih untuk fokkus barang-barang bekas seperti besi tua, kertas dan berbagai jenis logam atau alumunium, karena barang-barang bekas dari bahan itu lebih mudah penjualannya dan banyak pabrik yang siap menerima.

Strategi pemasaran.

Dalam mengembangkan bisnisnya ini, Hakim berkomitmen menerapkan prinsip untuk menerima sebanyak-banyaknya pelanggan atau konsumen. Tidak perduli SARA, semua dilayani.

“motto kami adalah melayani sebaik-baiknya pelanggan dan memfasilitasi kebutuhannya. Mereka bisa mudah menjual barang dan mudah mendapat uang. Semakin banyak barang kita terima, maka semakin cepat perputaran barang dan modal,” ujarnya.

Sedangkan dari segi persaingan usaha sejenis menurut Hakim sudah sangat ketat, meski pada awalnya  Hakim menganggap sebuah persaingan usaha menjadi kendala tersendiri, namun berjalannya waktu ia kembalikan pada prinsip awal dalam membangun sebuah usaha, yakni  jujur dalam berdagang atau menciptakan kepercayaan dengan semua relasi, kemudian memperluas jaringan usaha melalui silaturahmi dengan semua pihak serta berbuat baik dengan semua orang.

“kami bisa survive karena bisa melayani pelanggan dengan sebaik baiknya, ada barang ada uang. Kita tidak pernah menunda pembayaran barang. Saat ini kita memiliki sekitar 25 agen. Rata-rata 1 agen memiliki 10 sampai 15 anak buah pemulung atau pencari barang. Semaksimal mungkin kita akan bantu agen -agen itu ketika ada masalah, baik masalah modal atau masalah lainnya, dari situlah tercipta kepercayaan antara kami dan para agen. Karena kejujuran dan komitmen yang kita bangun sehingga bisa maju bersama,” pungkasnya. (hdy)

News Feed