oleh

Bentuk Penjajahan Baru Sepakbola Indonesia Pasca Bebas dari Hukuman FIFA

JAKARTA, Siaranindonesia.com – Keterlibatan orang asing yang mendominasi di dunia sepak bola Indonesia merupakan bentuk penjajahan baru untuk sepak bola Indonesia pasca bebas dari hukuman FIFA.

Hal ini disampaikan oleh Sarman El Hakim Ketua umum MSBI, bahwa Penggunaan wasit asing untuk PSSI oleh perusahaan penyelenggara yaitu PT Liga Pembaharuan Indonesia bukan merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan sepak bola Indonesia.

“Pemakaian wasit asing oleh penyelenggara PT Liga Pembaharuan Indonesia ini tidak akan menyelesaikan permasalahan Sepakbola Indonesia, karena permasalahan mendasar dari sepak bola Indonesia adalah tidak profesionalnya PSSI. PSSI mengamanahkan pelaksanaan kompetisi kepada PT. Liga Pembaharuan yang berbentuk Perusahaan dan perusahaan itu kan (profit oriented (cetak miring), sebagaimana umumnya sebuah perusahaan biasanya akan mencari keuntungan sebesar-besarnya dari penyelenggaraan sepak bola Indonesia”,jelas Sarman di Jakarta, Sabtu, (5/8).

Sarman juga menegaskan bahwa Perusahaan Liga tersebut telah gagal dalam penyelenggaraan, namun disayangkan, mengapa dengan kegagalan tersebut justru ditambah dengan kegagalan baru yaitu mendatangkan wasit asing.

Menurut Sarman, hal tersebut menunjukkan bahwa pihak penyelenggara dan PSSI semakin mempersempit kemungkinan Indonesia melahirkan wasit-wasit dari anak bangsa sendiri yang juga berkeinginan untuk menjadi wasit di pertandingan-pertandingan Sepakbola baik nasional maupun internasional.

Jika hari ini liga tertinggi nasional sudah menggunakan wasit asing sama juga mempersulit karir wasit lokal. Harapan untuk mencapai tujuan nasional sepak bola Indonesia semakin jauh karena sudah pemainnya asing, pelatihnya asing sekarang wasitnya pun asing.

Sarman pun menambahkan, aturan terkait karir wasit yang harus bersertifikat atau licensed(cetak miring) lebih tepatnya ini masih belum jelas, ditambah lagi dengan wasit asing dari Australia, dimana sepak bola tidak populer disana, karena yang populer disana yaitu olahraga lainnya seperti rugbi dan kriket.

Sarman juga turut memberikan saran solusi untuk memajukan sepak bola Indonesia yaitu PSSI harus meninjau ulang PT Liga Pembaharuan atau mencari Perusahaan lain yang mampu menyelenggarakan sepak bola Indonesia secara profesional.
Sarman menambahkan bahwa ada konflik kepentingan atau “conflict of interest”, yaitu jabatan rangkap dari PT Liga Pembaharuan.

“Salah satu dari permasalahannya, Direktur dari PT Liga ini adalah bendahara dari PSSI, ada jabatan rangkap yang seharusnya tidak boleh, karena itu tidak profesional. PSSI itu non profit sedangkan PT Liga itu profit karena berbentuk badan usaha dalam perusahaan terbatas”, jelas Sarman.

Sarman menegaskan juga bahwa pasti ada perusahaan penyelenggara lainnya yang lebih baik jika diberi kesempatan. Profesionalisme dan bagus tidaknya perusahaan penyelenggara kompetisi akan berdampak pada kualitas pemain Tim Nasional.

“Kenapa kita bisa bikin event dunia di Indonesia, sedangkan untuk menyelenggarakan kompetisi sepak bola yang profesional PSSI tidak mampu . Kalau penyelenggaraan kompetisi itu dilakukan dengan benar dan profesional maka akan menghasilkan timnas yang tangguh, karena dari kompetisilah diketemukan pemain-pemain yang akan direkrut oleh Indonesia dalam bentuk tim Nasional Indonesia” jelas Sarman dengan optimis.

Lanjutnya,”Sudah cukup syaratnya untuk dikatakan sepak bola Indonesia sedang DIJAJAH yaitu pemainnya asing, pelatihnya asing, wasitnya juga asing.

Beberapa negara yang banyak menggunakan pemain asing tidak berhasil dalam mengharumkan nama negaranya. Contohnya Inggris, banyaknya pemain asing, Inggris hanya sekali menjadi juara dunia yaitu pada tahun 1966, itu pun pada saat Inggris jadi tuan rumah penyelenggara. Jadi sebenarnya pemain asing ini tidak berdampak pada prestasi negara tersebut”, tutup Sarman

News Feed