Proyek Listrik 35000MW: Banyak Tender Gagal, PLN Diminta Fokus Bisnis Transmisi

  • Bagikan

JAKARTA. SiaranIndonesia.com Proyek listrik 35.000 Mega Watt (MW) berada di ambang krisis. Banyak tender yang gagal dan beberapa tender proyek belum masuk tahap pra kualifikasi. Padahal proyek setrum ini menjadi program andalan Presiden Jokowi yang ditargetkan selesai tahun 2019.
Fabby Tumiwa, pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR) mengatakan, berlarut-larutnya tender listrik ini
lantaran PLN justru sibuk mengurus bisnis sampingan, di antaranya rencana akuisisi Pertamina Geo Energy, produsen listrik panas bumi. “Seharusnya PLN fokus pada pembangunan pembangkit listrik,” kata Fabby.

Saat ini saja baru sekitar 13.000 MW pembangkit yang selesai proses tendernya, sedangkan yang lain masih jalan di tempat. Dengan lambatnya proses tender dan berujung pada keterlambatan konstruksi tentu ujung-ujungnya bakal berdampak pada krisis listrik. Padahal mestinya jika ditargetkan pada 2019 sudah harus ada tambahan pembangkit 19.000 MW, maka pembangunan pembangkit sudah harus dilakukan saat ini untuk memenuhi kebutuhan di tahun tersebut.

Sayangnya, saat ini banyak tender pembangkit yang nasibnya justru tidak ada kejelasan. Bahkan beberapa tender batal dilaksanakan. Seperti PLTU Jawa 5, PLTU Sumsel 9, PLTU Sumsel 10, PLTMG Pontianak, dan PLTMG Scattered.

Selain itu ada juga tender yang terancam batal, yakni PLTU Jawa 7, PLTGU Riau, PLTGU Jawa Bali, dan PLTU Jawa 1. Bahkan untuk PLTGU Jawa 1, PLN telah melakukan dua kali perpanjangan penawaran.

Untuk PLTGU Jawa 1, di mana pengajuan dokumennya akan ditutup pada 25 Agustus ini, juga minim peminat. “Kita lihat saja nanti hingga akhir tenggatnya berapa konsorsium akan memasukkan penawaran. Kalau jumlah konsorsiumnya sedikit, itu menunjukkan procurement PLN mungkin bermasalah,” kata Fabby.

Belum lagi nasib tender-tender pembangkit lainnya yang sampai saat ini PLN belum juga memulai proses prakualifikasinya seperti Jawa 3, Pembangkit Dumai, Pembangkit Sumbagut, dan Pembangkit Jawa Bali 4.

Untuk itu, Fabby menyarankan pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, untuk benar-benar mengawasi PLN dalam menjalankan program ini. “PLN dalam memberikan procurement tender, harusnya mencari cara dan terobosan agar procurement dan bidding bisa berjalan lebih cepat,” sarannya.

Jika kondisinya dibiarkan seperti ini, akan berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Kalau ketertinggalan suply dengan demand trus terjadi, maka pengaruhnya adalah 2018-2019 itu di beberapa tempat krisis listrik akan bertambah parah,” katanya. Di tahun 2018 saja, diperkirakan sudah ada ancaman defisit pasokan listrik untuk wilayah Jawa-Bali.

PLN tentu harus sadar bahwa potensi defisit pasokan listrik dan elektrifikasi di Indonesia disebabkan oleh 2 area bisnis utama yang saat ini menjadi tanggung jawabnya, yakni pembangkitan dan transmisi-distribusi listrik. “PLN jangan sampai lupa bahwa tanggung jawab dan fokus bisnisnya adalah pembangkitan dan transmisi-distribusi,” ujarnya.

Perlu diketahui hingga saat ini di sektor pembangkitan dan transmisi-distribusi kinerja PLN masing-masing hanya 1% dan 6%. Jika PLN tidak fokus pada tanggung jawabnya serta menjalankan pola serta kerjanya seperti saat ini maka bukan tidak mungkin pada tahun 2019 kinerja PLN di area pembangunan pembangkit hanya 10.000 MW atau tak mencapai sepertiganya dari target. Sementara di sektor transmisi dan distribusi yang dicapai hanya di bawah 20.000 kms atau hanya sekitar 40% saja.

 

 

Editor: Bny

  • Bagikan

Comment