oleh

Kemendikbud Melestarikan Budaya dengan Pemakaian Pakaian Daerah

JAKARTA, SiaranIndonesia.com – Kemendikbud canangkan gerakan lestari budaya melalui pakaian daerah. Hal itu dikatakan M. Chozin Amirullah, Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, apabila gagasan Mendikbud Anies Baswedan mengenai pemakaian pakaian daerah ini merupakan bagian dari strategi pelestarian kebudayaan.

“Kebudayaan akan tumbuh bila ada upaya nyata dan sistematis yang dilakukan pemerintah dalam melestarikan dan mempromosikan budaya. Bagaimana kita akan mengajak semua warga negara mencintai budaya indonesia, salah satunya  dengan memakai pakaian daerah, sementara di internal kita belum memulainya? Saya kira apa yang kita di Kementerian ini telah mencetak terobosan nyata dalam upaya menghadirkan identitas kebhinekaan, ke-Indonesiaan melalui keberagaman baju-baju daerah yang dipakai di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.” Ujar pria yang akrab disapa Bang Chozin di Jakarta, Selasa (5/4/2016).

Dikatakan juga, jangan heran apabila anda sedang berkunjung ke kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada hari selasa minggu pertama dan ketiga setiap bulannya menemukan pemandangan yang unik, karena dari jajaran pimpinan dari Menteri hingga pegawai memakai pakaian daerah dari berbagai daerah di Indonesia.

Seperti yang terlihat hari ini Selasa (5/4/2016) di Kantor Kemendikbud Senayan-Jakarta, para pegawai tertib menjalankan kebijakan ini. Pemakaian pakaian daerah selama satu hari penuh ini mengiringi aktivitas para pimpinan dan pegawai, termasuk dalam urusan rapat.

“Saya mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengenakan pakaian daerah sebagai upaya bersama untuk melestarikan budaya bangsa. Pelestarian ini harus dimulai dari diri kita sendiri, dari yang sebelumnya biasa menjadi terbiasa, merasakan kemudian mencintai warisan budaya negeri.” ujar Nur Berlian VA, Kepala Bidang Penelitian Kebudayaan, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemdikbud.

Terkait kebijakan pemakaian daerah ini juga diapresiasi pendiri Komunitas Peduli Asean (KAPAS), Hariqo Wibawa. Ia mengatakan program pemakaian pakaian daerah ini patut diapresiasi berbagai kalangan karena selain mempromosikan budaya, juga menghadirkan kebhinekaan akan betapa kayanya Indonesia.

“Kami di komunitas juga sedang membangun gerakan serupa, mempromosikan budaya, pariwisata dan produk lokal melalui kaos dan media sosial. Apa yang dilakukan oleh Kemendikbud ini konkrit dan perlu didukung. Saya kira, tinggal bagaimana ke depan membangun kerjasama yang baik antara pemerintah dengan komunitas sehingga gerakan ini meluas ke semua masyarakat.” Jelas pria yang akrab disapa Riqo ini.

Senada dengan Hariqo, pegiat komunitas budaya dari Yayasan Danurweda, Unggul Sudrajat, melihat bahwa kebijakan ini akan mendorong para pegawai untuk mengapresiasi pakaian daerah dari berbagai suku bangsa yang ada, tidak hanya dominasi suku bangsa tertentu saja. Selain itu diyakini hal ini akan meningkatkan industri kecil dan menengah yang bergerak di bidang budaya.

“Gerakan pelestarian budaya akan tumbuh, dan para pelaku usaha berbasis budaya juga akan mendapatkan manfaatnya. Semisal baju daerah jawa, berapa banyak manfaat ekonomi yang akan diperoleh perajin lurik, blangkon, batik, hingga empu dan perajin keris? Coba lihat di Sumenep Madura sebagai sentra industri budaya keris terbesar di Asia Tenggara, ada 647 empu dan perajin keris yang akan terbantu dengan gerakan ini. Produksi akan terus berjalan, sektor UKM akan tumbuh. Saya yakin bila kita konsisten, akan banyak manfaat yang diterima semua pihak.” Ujar Unggul yang juga Peneliti Sejarah dan Budaya di Puslitjakdikbud, Balitbang, Kemdikbud.

Kebijakan mengenai pemakaian pakaian daerah ini tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemdikbud Nomor 1051/A.A6.SE/2016 tentang Pakaian Kerja Pegawai di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak 2 februari lalu, pemakaian pakaian daerah ini telah resmi pelaksanaannya di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari tingkat pusat hingga UPT di daerah. Banyak pihak berharap kebijakan ini bisa ditularkan hingga tingkat pemerintah daerah agar semakin banyak kalangan, khususnya generasi muda semakin mengenal budayanya.

Komentar

News Feed