oleh

GP Ansor Waykanan Sambut Positif Pilkada 2015

WAYKANAN, SiaranIndonesia.com – Provost Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkorcab Waykanan, Lampung Hudi Rahman di Blambangan Umpu yang berada sekitar 220 km sebelah utara kota Bandarlampung, Minggu (4/10) menegaskan pihak-pihak yang memandang apalagi menginginkan Ansor berkecimpung dalam politik jelas sesat berpikir, gagal paham dengan organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) berdiri 24 April 1934 ini.

“GP Ansor menyambut baik dan siap berpartipasi mensukeskan pemilihan kepala daerah akan berlangsung pada 9 Desember 2015. Namun demikian, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Waykanan menegaskan tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati sehubungan kami bukan partai politik,” ujar Hudi.

Ansor, paparnya lagi, bukan underbow partai politik apalagi partai politik. “Karena itu, berkaitan dengan pemilihan kepala daerah organisasi kami tidak berpihak. PC GP Ansor Waykanan bersikap netral,” katanya.

Pilkada di Waykanan diikuti dua pasangan calon, Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, Nasdem dan Golkar, serta Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Memilih, demikian salah satu pendekar pencak silat di Waykanan itu melanjutkan, adalah hak setiap orang, termasuk kader Ansor. “Karena itu, jika ada kader GP Ansor berpihak itu pilihan individu, namun dilarang membawa atau mengatasnamakan organisasi GP Ansor,” ujar Hudi lagi.

Untuk diketahui, sejumlah politisi Waykanan dari sejumlah partai seperti Hanura, Demokrat, PKB dan PDI Perjuangan tercatat sebagai Dewan Pembina GP Ansor Waykanan periode 2014-2018. Namun demikian, kata Hudi lagi, di wadah tersebut para politisi tersebut tidak berpolitik.

“Kader Ansor boleh belajar politik. Tapi Ansor sebagai badan otonom NU yang mengelola Barisan Ansor Serbaguna atau Banser bukan wadah politik. Ansor adalah wadah untuk beribadah, berkhidmat pada negeri bernama Indonesia melalui gerakan sosial, keagamaan dan pendidikan,” ujar alumni Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) II PW GPAnsor Lampung itu menegaskan.

Sejak Waykanan menjadi kabupaten berpisah dari Lampung Utara mulai tahun 1999, jumlah anggota Ansor berikut Banser hingga 2014 yang telah mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) tercatat kurang lebih 2.000 jiwa. 70 persen diantara mereka telah menikah, sebagian besar telah mempunyai anak hingga cucu yang selanjutnya mengikuti jejak ayah atau kakeknya bergabung dengan Ansor.

Sebagaimana kepemimpinan GP Ansor sebelumnya pada Pilkada Waykanan 2010 yang netral, demikian Hudi Rahman menegaskan, kepemimpinan masa khidmat sekarang juga akan netral.

Komentar

News Feed