Sarmuji: Tanpa Solidaritas, Tak Terjadi Pembangunan yang Sehat

  • Bagikan

sarmujiBLITAR, SiaranIndonesia.com – Anggota MPR RI M. Sarmuji, SE, M.Si menyampaikan solidaritas sosial sangat berpengaruh penting terhadap pembangunan karena dalam solidaritas terdapat hubungan saling membutuhkan dengan rasa gotong royong sehingga adanya rasa saling membantu antara satu dengan lainnya. Hal tersebut disampaikan dalam Sosialisasi MPR RI dan Serap Aspirasi Masyarakat: “Membangun Solidaritas Masyarakat dalam Perwujudan Sosial” di gedung Desa Dadaplangu, Kec. Srengat, Kab. Blitar, Jawa Timur (13/05).

“Pembangunan yang terjadi tak dapat berjalan baik tanpa adanya rasa solidaritas sosial di kalangan masyarakat sendiri,” kata Sarmuji.

Hal senada juga disampaikan Ibu Hj. Anik Wahjuningsih, ST. M.Si (DPRD Kab. Blitar), apabila rasa kebersamaan merupakan milik masyarakat yang secara sadar menimbulkan perasaan kolektif.

“Perasaan kolektif yang merupakan resultant (akibat) dari kebersamaan, merupakan hasil aksi dan reaksi diantara kesadaran individual. Jika setiap kesadaran individual itu menggemakan perasaan kolektif, hal itu bersumber dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan kolektif tersebut. Jadi masing-masing individu diserap dalam kepribadian kolektif,” urai Anik.

Camat Kecamatan Ponggok Agus santosa juga menyampaikan hal yang sama, solidaritas harus terus dipupuk dengan senantiasa mengidentifikasi diri sesering mungkin. Hal itu mengingat akan kebutuhan yang sama sebagai manusia seperti seperasaan, sepenanggungan dan saling butuh.

Lebih lanjut, kepala Desa Langon, Muhammad Yasin memaparkan bahwa moralitas merupakan suatu keinginan yang rasional. Jadi perbuatan moral bukanlah sekedar “kewajiban” yang tumbuh dari dalam diri melainkan juga “kebaikan” ketika diri telah dihadapkan dengan dunia sosial. Setiap individu yang melakukan pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma kolektif timbul rasa bersalah dan ketegangan dalam batin. Nilai-nilai itu sudah merasuk dalam batin dan memaksa individu, sekalipun pemaksaannya tidak langsung dirasakan karena proses pembatinan itu untuk menyesuaikan diri.

“Moralitas mempunyai keterikatan yang erat dengan keteraturan perbuatan dan otoritas. Suatu tindakan bisa disebut moral, kalau tindakan itu tidak menyalahi kebiasaan yang diterima dan didukung oleh sistem kewenangan otoritas sosial yang berlaku, juga demi keterikatan pada kelompok,” paparnya saat menjawab salah satu peserta tentang moralitas.

Penyampaian penutup Sarmuji menegaskan, tradisi solidaritas sosial yang telah ada pada masyarakat kita se­cara te­rus menerus harus tetap dilestarikan dari generasi ke generasi beri­kutnya. Akan tetapi karena dinamika budaya tidak ada yang statis, terjadilah beberapa peru­bahan secara eksternal dan internal. Unsur yang mempengaruhi tradisi solidarits sosial disebabkan oleh be­berapa faktor, seperti meningkatnya tingkat pendidikan anggota keluarga sehingga dapat berpikir lebih luas dan lebih memahami arti dan kewajiban mereka sebagai manusia, perubahan tingkat sosial dan corak gaya hidup  kadang-kadang mencipta­kan kerenggangan di antara sesama anggota keluarga, Sikap egoistik, bila seseorang individu terlalu me­mentingkan diri sendiri dan keluarganya, lalu mengorbankan kepentingan masyarakat.

“Mari kita rawat tradisi solidaritas social secara baik,” tutupnya.

Acara ini yang diikuti ratusan orang dari berbagai organisasi masyarakat seperti perwakilan OKP, kelompok Gapoktan, perwakilan ORMAS AMPG, pengurus Kecamatan PG berlangsung meriah. Sebagai narasumber anggota DPR RI/ MPR RI daerah pemilihan VI Jawa Timur M. Sarmuji, SE, M.Si, anggota DPRD Kab. Blitar Hj. Anik Wahjuningsih, ST. M.Si, kepala Desa Langon Muhammad Yasin, dan camat Kecamatan Ponggok Agus Santosa.

 

  • Bagikan

Comment