oleh

Konflik Ukraina Telan 5.000 Korban Tewas

JENEWA, SiaranIndonesia.com – Jumlah korban tewas dalam konflik di Ukraina yang dimulai pada April lalu telah mencapai lebih dari 5.000 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah.

Pertempuran antara militer Ukraina dengan kelompok separatis pro-Rusia meningkat selama 10 hari terakhir. Pada Jumat (23/1), pemimpin separatis menyatakan akan terus meningkatkan tensi pertempuran, dan tidak bersedia membahas gencatan senjata dengan Kiev.

Kantor hak asasi manusia PBB menyebutkan, jumlah tersebut sudah termasuk 262 orang tewas dalam pertempuran antara pasukan pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia dalam 10 hari terakhir.

“Kami mencatat, eskalasi pertempuran yang signifikan dalam konflik ini telah menewaskan 5.086 orang, dan mungkin lebih dari itu,” kata juru bicara hak asasi manusia PBB Rupert Colville dalam jumpa pers di Jenewa, dikutip dari Reuters, Jumat (23/1).

Colville juga menyebutkan ekslasi pertempuran menjadikan sembilan hari terakhir sebagai periode paling mematikan sejak gencatan senjata diumumkan pada awal September lalu. “Petugas militer yang tewas belum semua ditemukan,” ujar Colville, yang mencatat, korban luka mencapai 10.948 orang.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, menyatakan pemberian bantuan ke daerah konflik terhambat akibat peraturan keamanan pemerintah Ukraina yang mengharuskan setiap orang mempunyai ijin khusus untuk memasuki daerah tersebut. Akibatnya, kondisi kehidupan pengungsi semakin sulit.

“Peraturan yang mengharuskan ijin khusus untuk memasuki Donetsk dan Luhansk semakin memperburuk situasi yang sudah sulit, khususnya selama pertempuran beberapa hari terakhir,” kata juru bicara UNHCR, Karin de Gruijl.

Sementara itu, Rusia membantah semua tuduhan akan keterlibatan negara ini dalam konflik yang terjadi di Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin justru menyalahkan Kiev atas lonjakan pertempuran di Ukraina timur yang menewaskan banyak warga sipil.

Menurut dia, Ukraina tidak menanggapi proposal yang telah dibuat dalam sebuah surat kepada Presiden Petro Poroshenko agar menarik senjata dari garis demarkasi sebagai langkah menuju gencatan senjata. CNN/AS

Komentar